Selasa, 29 Maret 2016

WONG-WONGAN

Bismillah....

Saya menulis draft ini ketika saya sedang di Perpustakaan Nasional, daerah Salemba. Nggak usah kepo saya lagi ngerjain apa karena saya memang nggak sedang ngerjain apa-apa. Perpus is new starbuck yunno. Dari lantai 3 saya melihat ada seorang anak yang sedang berbicara sendiri, sebenarnya berbicara sama bonekanya, semacam Barbie. Saya jadi inget masa kecil saya dulu, saya juga seneng banget monolog, bicara sendiri.

Dari kecil saya nggak begitu suka boneka-bonekaan. Teddy bear or whatever. Nggak ngotot minta dibeliin juga. Setelah agak besar, kalau ada boneka malah saya hadepin belakang kalo tidur, takut tiba-tiba siboneka senyum sendiri (ini serius). Pernah punya Barbie asli pun bekasan mbak tante saya yang sudah selesai pubernya, tentu saja Barbie aslinya yang sudah jelek banget, rambutnya sudah dipotong pendek, terus di dekat bibirnya dibikin tai lalat palsu (dititik pakai bolpen. Jaman dulu tai lalat di dekat bibir ini simbol keseksian), terus bagian bibirnya udah dikasih coretan spidol merah sebagai pengganti lipstik. Barbie KW pernah punya juga kalo nggak salah sih dioleh-olehin, nggak begitu ngena juga di memori saya.

Yang saya suka malah mainan wong-wongan (di sebagian daerah namanya Bongkar Pasang alias BP). Yang kayak gambar orang terus ada bajunya, ada tasnya, dari kertas, tau kan? Saya punya koleksi banyak nih gambar wong-wongan gini. Sekitar jam 1 siang saatnya istirahat, teman-teman sudah disamping saya buat dengarin monolog saya sama si gambar kertas ini. Katakanlah sebagai pengantar tidur siang teman-teman SD saya (Saya SD nya diasramakan). Bikin rumah-rumahan pakai property seadanya. Kalau tokohnya masih kurang karena kehabisan gambar, gampang, tinggal motong sapu lidi terus dinamain Rudi atau Andy, nama yang populer jaman saya kecil. Kenapa si lidi potongan ini jadi cowok? Karena di gambar potong wajah cowoknya jelek dan bajunya nggak bagu-bagus.

Pict from: www.mbokjajan.com

Serius, saya ini dalang wong-wongan yang masyhur. Kalo saya sudah bikin lapak, kalah deh semuanya. Yang lagi makan langsung cepet-cepet ngrampungin, yang lagi ngapain gitu langsung beli tiket teriak “AKU SAMPINGMU”, terus yang lagi pada buka lapak wong-wongan lain langsung menggulung tikarnya demi mendengarkan monologku. Menyerahkan propertinya untuk membantu kemegahan rumah wong-wongan saya. Temen saya namanya Yanti, sekarang sudah jadi bu notaries, yang seringnya menata properti rumah sandiwara wong-wongan saya. Seharusnya dia mungkin jadi desain interior dan saya seharusnya jadi pemain sinetron #EH

Saya baru berhenti main wong-wongan setelah kelas satu MTS (setingkat SMP), bukan apa-apa, soalnya wong-wongan kesayangan saya yang biasanya saya kasih nama Marissa hilang nggak tau kemana. Marissa ini saya potong dari sampul buku pelajaran, ngawur ya. Cantik deh, pakai topi, tinggi, wajahnya bule imut, terus bajunya ala-ala Marrie Antoinette. Saya sih curiganya si Marissa diambil diam-diam sama Mbak Jum -pengasuh saya, yang risi melihat saya masih ngomong sendiri di usia puber. Lucu juga.

Di facebook saya malah pernah dibahas betapa teman-teman SD saya kangen wong-wongan saya. Malu-maluin bener deh.

Tapi saya nggak yang punya “teman imajinasi” yang hadir nemenin saya main tanpa diketahui orang lain. Nggakkkk, saya nggak kayak gitu. Ini sedikit tentang masa-masa 90-an saya. Kalo nggak percaya tanya temen-temen saya, bu Notaris yanti, bu nyai mima, temen saat masih ingusan uty. Time flies so fast ya guys….

Hei, saya sadar banget rumah saya ini berdebu, setahun nggak dikunjungi. Habis gimana lagi, susah banget sinyal di sini. Ngomong-ngomong, terimakasih sudah membaca. 






Sabtu, 07 Februari 2015

Akhirnya ngeblog lagi...Review: Aku dan Orang Sakuddei (buku)

Hei Apa kabar? Saya sih bertambah baik, hidup saya makin asik.

Saya rapel saja ya, untuk tahun kemarin...

Selamat Tahun Baru..
Selamat Ulang Tahun
Selamat Lebaran
Selamat Natal
Selamat atas kebahagiaan yang datang

Serius, ngeblog itu butuh mood yang sangat bagus, dan kadang ngeblog itu butuh masalah juga. Seperti masalah saya yang semenjak pindah rumah jadi tidak punya sinyal hp dan modem. Jadi begitu dapat sinyal, saya sempatkan buat ngeblog.

Sebenarnya bingung juga sih mau nulis tentang apa, hidup saya menarik tapi tidak untuk dibagi. Pengalaman yang asik banyak tapi bingung mau mulai dari mana. Jadi saya mau resensi buku yang terakhir saya baca. Saya dan mungkin jarang banget baca buku. Kayaknya lebih gampang googling saja sekalian buka sosmed. Cari resep, cari resensi film, mau baca surat kabar, cari model jilbab terbaru, sampai review BB cream tinggal klik. lebih mudah, bisa dimanapun. Inilah yang bikin saya jadi males baca. 

Sampai suatu hari saya terdampar di tengah kemacetan Jakarta, senewen di jalan, lalu masuk Gramedia. Biasanya saya kalau di Jogja beli buku selalu di Toko Buku Diskon, jadi dia harganya nggak semahal Gramedia. Kaceknya bisa sampai 20 rebu, lumayan kan?? 


Dan dapetlah buku ini, buku Antropologi yang di tulis oleh seorang Antropolog Belanda bernama Reimar Schefold. Bagus banget bukunya, sangat Antropologis. Buku ini adalah kisah Mr. Schefold yang datang ke Mentawai untuk meneliti. Seperti buku "laporan pertanggungjawaban"nya antropolog setelah melakukan penelitian, buku ini ditulis secara partisipatori, artinya, pelaku sendiri yang menceritakan pengalamannya lewat tulisannya. Bahasanya lentur, tidak kaku seperti Sang Maha Guru Antropologi Evan Pitchard yang meneliti Suku Nuer. 

Reimar berada di Mentawai selama 2 tahun (1967-1969), meneliti suku terdalam Mentawai yaitu suku Sakuddei. Tinggal di sana, di dalam hutan. Saya tidak bisa membayangkan betapa serunya. Masuk ke lingkungan baru yang primitif, penuh hal-hal magic, dan dengan komunikasi yang terbatas.
Seru kan? Kalau saya mungkin langsung nangis mintak pulang di malam pertama nginap di hutan. Nggak bakat emang jadi antropolog. 

Yang menarik di buku ini adalah bahasannya tentang Bajou. Bajou itu apa yaa, semacam sawan kalau di Jogja. Tapi Bajou ini lebih luas. Bajau menurut saya bisa diartikan sebagai Roh. Setiap benda yang ada di muka bumi ada Bajounya. Tumbuhan, sungai, rumah, bahkan lampu dan mercusuar. Reimar sendiri sempat terkena Bajou dari Uma (rumah), karena dia terlalu heran melihat uma-uma yang ada di Sakuddei. Bajou bisa mengakibatkan seseorang menjadi sakit bahkan meninggal. Seorang warga konon katanya meninggal karena terkena Bajou dari Mercusuar yang baru didirikan, lampunya terlalu terang sehingga oragn tersebut kaget. Pun kalau warga tidak mengindahkan sebuah peraturan, maka salah satu warganya bisa terkena Bajau. 

Yang lucu, saya jadi merasa diri saya terkena Bajou ketika si dia bawa mobil ke rumah. Badan saya mendadak panas, muntah-muntah dua hari. Bajou Mobil. Iya, saya memang gampang tebawa suasana. 

Di bagian akhir buku menceritakan bagaimana Reimar kembali lagi ke Mentawai setelah 40 tahun. Ketika segala sesuatu telah berubah, teknologi semakin maju, hutan semakin terkikis, tetapi keramahan warga masih tetatp sama. 

Serius, bagus banget bukunya. Semoga saya bisa beli buku setiap bulan. Membaca buku itu mengasikkan. Apalagi dilakukan pas habis mandi, rumah sudah rapi, dan mendung. Mall? No, Thanks...

                                                                               Bonus Foto :D

Terimakasih Sudah membaca... jangan lupa komentarnya yaa...

Selasa, 13 Mei 2014

Mas Mesir Sudah Pulang

Hei,ini benar-benar catatan yang tak direncanakan dan tak dipikirkan.Dan aku baru saja memperbaiki blog setelah sekian lama. Mohon bantuannya kawan... 



Berita kedatang Mas Mesir menghebohkan penduduk kampung. Bagaimana tidak, kampung yang terkenal akan stok buruh ini tak ada seorangpun yang mengenyam pendidikan lebih dari SMU. Mas Masir yang mendapat beasiswa ke Mesir dari pesantrennya jadi sosok yang dinanti-nanti. Warga sudah membicarakan kedatangannya berminggu-minggu lalu. Namanya seharum bunga melati. Sudah tidak sabar gebrakan apa yang akan di lakukan Mas Mesir di Kampungnya sendiri. Pak RT yang mantan tukang ojek di Jakarta bersiap memerintahkan koloni Sholawatan milik kampungnya untuk tampil menyambut, tapi entah mengapa kok tidak jadi. Betapa membanggakannya Mas Mesir ini.

Tibalah hari yang ditunggu. Launching pahlawan pembawa perubahan. Mas Mesir mengimami sholat maghrib di Kampungnya sendiri, sekaligus nanti akan ceramah. Gadis-gadis berdandan secantik yang mereka bisa, Ibu-ibu akan membawa apalah untuk Mas Mesir agar sudi main ke rumahnya –sekaligus melihat anak gadisnya, bapak-bapak seperti biasa tetap kalem.

Dengan jubah putih dan sorban di ikat-ikat di kepalanya, Mas Mesir tampak seperti seorang Wali Jawa yang ada di gambar ruang kelas Madrasah, hanya saja ini versi yang muda. Wajahnya bersinar. Tasbih ukuran kecil berputar terus di tangan kirinya, tangan kanannya sibuk menyalami bapak-bapak kalangan ‘elit’ kampung –seperti pak guru ngaji, pak RT, pak RW, dan aparat desa lainnya. Orangtua Mas Mesir yang sudah dari dulu kaya bangga melihat warganya yang semakin kagum pada mereka. Bapak-bapak lain merasa malu untuk mendekat, merasa bukan levelnya. Ibu-ibu di jamaah belakan senyum-senyum sendiri, dan gadis-gadis di pojokan cekikikan bernada I-am-verry-much-available.

Tibalah Mas Mesir mengimami, suaranya merdu, tajwid dan makhorijul huruf semua sempurna, mengalun membuat malam dingin di Kampung menjadi semakin syahdu. Ditambah lagi Mas Mesir membaca surat ar-Rahman di rakaat pertama, dan surat al- Mulk di rakaat kedua. Surat-surat ini dalam al-qur’an lumayan panjang bacaannya untuk ukuran orang Kampung.

Seorang nenek renta dengan nekad keluar dari barisan jamaah perempuan, masih rakaat pertama. Selonjor di belakang mengelus lututnya. Para Gadis berkali-kali menekuk lututnya bergantian. Sebagian lagi tak tahan untuk menguap sesulit apapun mereka mengatupkan rahang. Hanya bapak-bapak dari kalangan ‘elit’ kampung yang sepertinya masih bertahan dengan bacaan surat yang sangat panjang itu.

“Assalamualaikum warahmatullah…”   

Lega, akhirnya selesai juga.

Belum selesai ternyata, Mas Mesir kultum –yang dilakukannya hingga isya- dengan bahasa asing.

“Wah, Mas Mesir ngaji.” Tutur seorang Ibu penjual pecel, dilematis antara takjub atau ingin protes karena tak paham.

“Hush, Itu bukan ngaji. Itu kultum. Ceramah” Ibu lain memberitahu.

Sebagian Ibu-Ibu bahkan sempat menengadahkan tangannya sebelum disenggol ibu yang lain. Dikiranya Mas Mesir sedang membaca doa.

Tapi semua berekspresi sama, melongo!! Hanya (lagi-lagi) kalangan ‘elit’ kampung yang mengangguk-angguk takdzim, seperti memahami seluruhnya isi pidato Mas Mesir. Ibu Mas Mesir yang melihat dari barisan depan jama’ah putri malah menangis, melihat sendiri ‘kepintaran’ sang anak.

Mereka pulang dengan wajah hampa. Tak ada lagi kasak-kusuk di pasar  atau di warung wadangan.
Mas Mesir terlalu pintar untuk di komentari, pikir mereka.

Saya yang dua hari kemudian –merasa terhormat- ditemui Mas Mesir akhirnya mendengarkan keluhannya.
Tentang warga kampungnya yang bodoh
Tentang warga kampungnya yang tak paham hukum Islam
Tentang warga kampung yang semakin terbelakang
Tentang tak ada solusi untuk warga kampungnya

Saya??? Sama seperti Ibu-ibu di masjid tadi, berusaha sekuat tenaga mengatupkan rahangku. Agar tak menguap di depan Mas Mesir yang ganteng itu. 



Senin, 03 Juni 2013

Siklus sebuah Hubungan


Hai Guys...
Tak sengaja bertemu Mr. Pumpkin (pipinya cubby seperti Labu)di kopma UGM dan dilanjutkan ngobrol di food court. Mr. Pumpkin adalah my ex boy friend yang ke...2 eh tunggu, mungkin yang ke-3, tapi yang jelas bukan yang ke-5. Oh ya, waktu itu hubungan main-main kami selesai karena dia harus boyong, kuliahnya selesai.
Tapi dia benar-benar sosok yang mengagumkan. Pertama kalinya aku ditaksir cowok perlente ya dia itu.
I am in realtion ship “ kataku dari awal, meyakinkan kalau aku tak bisa menerimanya lagi -meskipun dia tak pernah meminta.
Mr. Pumpkin tertawa lebar, membuatku merasa aneh mengatakan hal itu
“ah of course, kaum kami tak mungkin membuat gadis sepertimu menganggur.”
Sialan, batinku.
so, tell me what you want, Mr. Pumpkin”
hmm, katakan siapakah wanita di depanku sekarang.. “ 
what? You knew me Mr. Pumpkin, c’mon...” Kataku keGRan.
“Aku lihat kamu berbeda sekarang. Kamu terlihat lebih matang”
Terlihat lebih matang itu sama dengan terlihat tua, kan ya?? 
well, I’m 27 years old. Jelas beda dibanding aku yang 20 tahun. Right?”
Ya, umurku dulu masih 20 tahun, dan waktu itu Mr. Pumpkin 25 tahun, sedang sibuk mengurusi skripsinya.
I have a daughter, she is lovelly” katanya tiba-tiba
“wow, I’m happy to hear that,” dan aku benar2 bahagia mendengarnya. Aku selalu menginginkan anak kecil . “Are you happy?”
Happy about what? My family?” tanyanya cuek, membetulkan letak kaca matanya (dulu dia tidak berkaca mata).
Aku mengangguk
“kamu telah menemukan cintamu, belahan jiwamu, menikah dan bahagia. Dan Oh my gosh, a daughter? How amazing, It’s You Mr. Pumpkin. Someone who always –sorry- playing with the girls next door?”
Mr. Pumpkin tertawa selebar-lebarnya, membuat kami dilihat beberapa orang di samping kami.
“begini Deph, cinta itu siklus”
wait wait... maksudmu sometimes you love her and sometimes you not?
Mr. Pumpkin mengangguk mantab, sangat mantab. Aku yang malah kebingungan
“masalahnya adalah, bisa nggak kamu jangan mengikuti siklus itu, dan tetep pada pilihanmu.”
“maksudnya? “ aku mulai tertarik
Mr. Pumpkin membetulkan kaca matanya lagi (hidungnya tak begitu bagus mengganjal kaca matanya)
“kamu menikah, kemudian tiba tiba saja mengalami kebosanan kronis- menuruti kemauan untuk  selingkuh -dan kamu menikmati perselingkuhanmu. And Then kamu memilih divorce-menikahi selingkuhanmu- terus apa? Apa setelah menikahi selingkuhan bisa dipastikan nggak selingkuh lagi? Suatu saat bosan akan datang lagi. Itulah yang dinamakan siklus. Paham sayang?
Hey, dia mulai merayuku
“presentasi yang lumayan magus Mr. Pump –kecuali panggilan ‘sayang’ itu, sungguh tak perlu.”
“senang bisa membuatmu tertarik. Bicara denganmu selalu membuatku makin penasaran denganmu. Hey, begitukah caramu memikat suamimu, Deph?”
Aku yang gantian tertawa lebar, mendadak merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. 
Tiba-tiba teringat peristiwa yang mempertemukan aku dengan si Mr. Pumpkin ini. Beberapa tahun yang lalu, Sudah lama sekali.
Kami saat itu sama-sama memakai baju warna biju dengan motif yang sama persis, mungkin cuma ukurannya yang berbeda, celananya pun biru juga. Duduk bersebelahan mengantri di depan ruang Pembimbing Akademikku. Aku mau minta tanda tangan KRS, dan dia membawa sebundel kertas folio, mau bimbingan skripsi. Saling diam karena memang tak kenal. Sampai tiba-tiba temanku datang.
“Deph, pacarmu?”
Dia melotot langsung memalingkan muka, mungkin menyumpah dalam hati karena waktu itu aku sedang kumel-kumelnya. Dan aku menabok temanku “Hush”. Kenal juga enggak.
Masih belum selesai, Temannya datang ramai-ramai dan menanyakan hal yang sama
“pacar baru nggak dikenal-kenalke” Mereka kompak mengolok si Pumpkin dengan sok tau-nya
Eh ini orang pada ngapain sih. 
Dan sodara-sodara, ternyata masih belum selesai juga.
Dia masuk duluan karena memang mengantrinya duluan dia, baiklah tak apa. Semoga tak lama, batinku saat itu.
Sedang tengah-tengah dia bimbingan tiba-tiba aku dipanggil masuk oleh pak dosen karena memang aku hanya meminta tanda tangan thok. Jadilah kami berdua duduk di depan pak dosen. Pak Dosen bergantian melihat kami.
“Kalau pacaran jangan lupa kuliahnya, nilainya jangan sampai turun. Syukur kalau nikah dosennya diundang.” Sahut beliau tiba-tiba
Olala....
Aku cuman senyum, jenis senyum getir. Ditanya sedikit sama pak Dosen tentang mata kuliah yang aku ambil, tanda tangan, dan langsung kabur.
“Deph” seseorang memanggilku, ternyata si cowok yang tiga kali dikira pacarku, Mr. Pumpkin itu.
Darimana dia akhirnya tau namaku? ternyata dia sempat melirik KRSku.
Begitulah awal perkenalan kami, standarlah setelah itu bisa ditebak, SMSan, ketemuan, jalan, dan “Mau Pacaran?”  katanya saat kami selesai nonton.
Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Siapa yang menyangka kami bertemu lagi dengan kondisi dia sudah memiliki anak, dan aku dengan pernikahan setahunku. 
Jangan dikira aku tertarik lagi pada si Mr. Pumkin ini, tentu saja tidak. Dia sedang mengurus pendaftaran s3 nya, dan aku cuma sedang berkumpul dengan teman-temanku. Aku ini setia, btw.
Benar juga kata Mr. Pumpkin, kalau seseorang melakukan perselingkuhan dan kemudian lebih memilih selingkuhannya ketimbang pasangan aslinya, apa bisa dipastikan dia (atau pasangannya) akan berhenti selingkuh??? TIDAK.
Jadi intinya, aku menyetujui pendapat bahwa cinta itu siklus
Tak bisa dihindari kadang memang bisa merasa setengah mati bosan, capek, eneg, males, dan merasa tak ada obrolan lain dengan pasangan. Tapi ayolah, nikmati saja. Itu cuma siklus. Seperti perempuan yang memiliki siklus menstruasi. Berhenti-lagi-berhenti-lagi. Ikuti saja.
Nanti juga baik lagi, ingat-ingat saja kebaikan si dia. Dan SETIAlah pada pilihanmu
Jangan sampai terjebak pada satu siklus dan kemudian kita menyesalinya, merusak hubungan yang sudah baik.
Pernah Selingkuh?? YA, waktu masih remaja labil dulu dulu.
Pernah jadi selingkuhan?? Tentu saja pernah, tetep ya kasusnya saat remaja labil.
Pernah diselingkuhi?? Mmm mungkin...(semoga TIDAK)
Sekian...

Selasa, 28 Mei 2013

Time to Dhuha







Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pulam) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapaun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Terj. QS. Ad- Dhuha)

Senin, 29 April 2013

The Other Pantura


Bismillah...



Saya sempat tinggal agak lama di sebuah daerah kecil di daerah Pantura, katakanlah nama daerah itu  Gembili. Berdiam diri, tidak melakukan apapun yang penting, datang sebagai makhluk asing buat mereka para penduduk. Makhluk asing karena cara bepakaian saya tidak sama seperti mereka, saya tidak bekerja dengan ulet seperti mereka, bahasa yang saya gunakan juga aneh di telinga mereka, dan tentu saja cara saya memandang hidup berbeda dengan perempuan asli sana. Saya dianggap berpendidikan, kaya, pintar, banyak uang sehingga sudah tidak perlu bekerja. Terkadang sayapun dianggap bodoh oleh mereka karena saya tidak juga memahami apa yang mereka katakan berkali-kali karena kesulitan memahami bahasa. Bahasanya sebenarnya masih sama, bahasa Jawa, hanya saja bahasa Jawa mereka itu intonasinya agak ditinggikan di bagian akhir kata, vokal terakhirnya agak sedikit dipanjangkan. Kosakatanyapun banyak yang aneh di telinga saya.

Dan ya Tuhan, sulit sekali menemukan orang yang bisa berbahasa Jawa kromo hinggil di sana. Di Jogja sudah ‘diwajibkan’ apabila bicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa Jawa Kromo Hinggil, kalau tidak? Kamu akan dianggap sebagai pemuda nggak tau diri. Saya yang tidak begitu pandai menggunakan bahasa Jawa lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai komunikasi saya dengan para orang tua kalau dalam situasi tertentu diharuskan berbicara yang agak lama dan panjang, itupun biasanya saya kemudian dianggap sebagai orang Jawa yang tidak njawani. Orang Jogja mengamini filosofi yang di anut oleh seorang Filsuf china kuno (lupa namanya :P) , bahwa “yang membedakan kelompok dan status sosial seseorang adalah bahasanya.” Maka dari itu mempelajari bahasa sangat penting. Apa yang keluar dari mulutmu menandakan darimana dirimu berasal. Di Joga pula, siapapun yang menanyakan sesuatu pakai bahasa kromo hinggil pasti akan di balas pakai bahasa kromo hinggil juga. Saya terbiasa dengan budaya yang seperti itu. Sayangnya di Gembili ini tidak berlaku yang begituan, anak setingkat sekolah dasar tetap menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa standar pergaulan) ketika berbicara pada kakek-kakek. Semuanya begitu. Jangan harap kamu menemukan anak yang berbicara halus pada orang tuanya.

Saya tidak sedang membandingkan ‘mana yang baik-dan mana yang tidak baik’ antara dua kebudayaan yang jelas berbeda lho ya, dari letak geografisnya saja sudah berbeda, tentu saja budayapun berbeda pula. Saya dari daerah pegunungan, pusat inti kerajaan (pemerintahan) dengan segala keruwetan budaya dan kekayaan filosofinya, dan Gembili ini ada di pesisir. Pesisir yang sejak dulu terkenal dengan keuletan karakternya, pekerja keras. Pesisir tempat arus lalu lintas perdagangan di Nusantara, Islam masuk berawal dari daerah pesisir, termasuk tempat transitnya perompak lautan pada zaman dahulu.

Jadi wajar saja kalau saya sedikit mengalami shock culture.

Tapi begitulah Pantura, dengan segala dinamikanya. Saya katakan berkali-kali mereka adalah pekerja yang sangat ulet. Kecil-kecil sudah berani merantau, anak lulus Sekolah Menengah sudah ngurban ke Jakarta dan kota-kota industri lainnya. Tidak memandang gender, semua merantau. Bahkan ada kesan kalau seorang laki-laki muda masih ada di desa maka dia bukanlah pemuda yang berani. Sukses saya lihat masalah belakangan, yang penting berani dulu.  

Saya yang sudah dawasa begini saja belum berani merantau sendiri, dan belum pernah melamar pekerjaan. Bagaimana mereka bisa menganggap saya banyak duit? 


Minggu, 10 Maret 2013

"SLAMET"


Bismillah...

Masih ingat ada berapa teman kita yang bernama “Slamet”?? Setidaknya ada empat orang slamet yang saya kenal, dua orang slamet teman saya SD, satu orang di  murid di sekolah, dan satu lagi saudara saya.  Tiga orang Slamet nama belakangnya sama semua “Slamet Riyadi”, Itu yang saya kenal dekat, masih ada empat orang slamet lagi yang saya tau wajah tapi tidak begitu dekat. Tentu saja nama Slamet lebih banyak digunakan oleh orang Jawa, meskipun ada seorang Slamet dari pulau Lombok yang saya kenal tak begitu dekat, dia mengaku kalau bapaknya menamainya Slamet karena ingin anaknya jadi seorang presiden, karena presiden selalu orang Jawa, dipilihlah nama Slamet sebagai nama anaknya, representasi dari cita-cita sang bapak agar anaknya kelak menjadi presiden, meskipun dia bukan dari Jawa.

Slamet berasal dari kata salam, bahasa arab yang artinya selamat. Selamat dari api neraka, selamat dari bujukan setan, selamat dari dunia yang kejam, dari lilitan hutang, dari bayangan pembimbing tesis (ini saya!), intinya selamat dari segala hal. Dalam doa sehari-hari saya selalu menyertakan “selamat dunia dan akherat”, doa yang simpel, namun benar-benar luas sekali maknanya.

Slamet itu bersyukur
Dari kata salam dari bahasa Arab inilah kata slamet muncul. Ketika kata salam sudah dibahasa jawakan artinya menjadi lebih luas lagi saya kira, karena kecenderungan suku jawa yang senang sekali memfilosofikan sesuatu. Memberikan arti yang sangat luas pada hal yang simpel.  Lidah orang jawa yang sulit menirukan logat orang Arab membuat kata Salam-salamah menjadi Slamet, syahadatain menjadi sekaten, Abdul Faqih menjadi Dul Pekik, Assalamualaikum menjadi lamlekum, dan yang sekarang sedang jadi tren ngaco astaghfirullahal ‘adzim menjadi lebih alay astajim.

Ini membuktikan bahwa sebenarnya suku Jawa memiliki posisi tawar tinggi hingga menyaring banyak hal yang masuk ke dalam ruang lingkupnya. Ketika agama dan budaya Hindu-Budha masuk, masyarakat jawa tidak mentah-mentah mengambil kebudayaan dan agama Hindu-Budha, begitu pula dengan Islam. Islam dengan membawa prinsip rahmata li alamin, tidak serta merta ditelan mentah-mentah orang Jawa, ada komunikasi intens antara diantara keduanya, dan komunikasi tersebut berjalan dengan sangat baik hingga saat ini.

Slamet adalah tujuan tertinggi manusia Jawa dalam mencapai hidup yang tentrem, ayem. dan selanjutnya golek slamet merupakan proses yang sangat rumit, penuh aturan, dan terkadang terlalu didramatisir. Bagaimana manusia Jawa mengenal rites of the passages, upacara sepanjang diri kita, atau lebih simpelnya upacara-upacara yang menyertai hidup kita. Dimulai dari upacara paling awal sejak bayi dalam kandungan, sampai upacara sesudah manusia meninggal, dari rogohan hingga ngijing. Inti dari masing-masing upacara rites of the passages adalah golek slamet, agar di babak kehidupan selanjutnya seseorang dapat menjalani dengan baik. Golek slamet hakekatnya adalah harapan agar hidup selalu dilingkupi perasaan ayem, tentrem, beruntung, dan jauh dari kesialan.

Semoga bermanfaat



Senin, 05 November 2012

Jaga ucapanmu!!!

Hai!!

Lagi-lagi, tulisan ini adalah ungkapan atas kekecewaan saya atas perkembangan anak muda sekarang. Mungkin perasaan saya saat ini sama persis dengan perasaan miris  orang tua ketika tau bahwa anak muda jaman saya dulu kalau pacaran sudah tidak pakai surat-suratan, tapi sudah mulai memakai henpon.

"Emang iyaa, Masalah buat lo??"

Slogan sebuah acara talkshow di trans tv sebenarnya, tapi kemudian kata-kata ini banyak dipakai remaja labil untuk mensekak temannya.

"Terus gue harus bunuh diri sambil bilang WOW getoooo??"

Kalau ada yang bilang begitu ke saya, saya tidak keberatan mengambilkan dia pisau dari dapur saya.

Kata-kata ini juga sepertinya hampir dipakai seluruh remaja labil. Sebenarnya saya pernah diam-diam bilang begitu , ketika suatu ketika seorang teman menyombongkan dirinya yang tidak pernah mau memakai barang murah dan merasa dirinya paling keren di lingkungannya.

Kesamaan dua kata itu adalah bukti bahwa remaja kita sudah kehilangan sebagian jati diri sebagai penerus bangsa yang peduli terhadap sesama. 

Anak muda, sekedar nasehat saja, kata-kata individualis seperti itu tidak pantas diucapkan pada teman yang berusaha peduli pada kita. Dilarang keras juga diucapkan pada orang yang lebih tua dari kalian. Haram diucapkan saat mongomentari keluarga kalian meskipun mereka adik kalian.


Mari kita kembalikan 'keramahan' sebagai ciri khas Indonesia

Kalian hanya bisa menggunkan kalimat-kalimat tersebut kepada teman kalian SESAMA ALAY. Bisa juga pada orang yang sedang sengak pada kalian, tapi tolong perhatikan perbedaan antara sengak dan bercanda.

Jangan saling menyakiti, kalau kau tidak ingin disakiti.

Ada satu lagi yang bikin saya lumayan BT ketika membuka halaman facebook saya, seorang remaja yang entah kenapa selalu men-tag nama saya pada fotonya. Nah kalo ini bukannya pengen dicuekin, tapi malah cari perhatian. Berbagi foto silahkan saja ya, asalkan ada hubungannya dengan yang di-tag. Saya juga senang melihat foto-foto teman di facebook dan tentu saja berkomentar. Tapi tolong jangan men-tag foto yang tidak ada hubungannya dengan saya #galak

Pengen banget sebenarnya berkomentar pada fotonya "DO I LOOK.....CARE???? BIG NO NO NOO"

Tapi saya cukup bisa menahan diri, memilih pilihan bijak dengan menghapus hastag saya sendiri. Deal kan??

Minggu, 07 Oktober 2012

Terlalu Terobsesi


Bismillah....

Why everybody’s so obsessed???

Ada seorang teman saya yang gila hormat, cita-citanya kepengen jadi anggota dewan, dan sepanjang persahabatan kami setau saya dia rela melakukan apapun demi cita-citanya. Orang-orang kecil dia korbankan. Kesalahan sedikit yang dilakukan orang kecil pasti akan kena makian kasarnya. Ada sesuatu yang tak beres, dia akan sibuk mengutukinya. Budaya yang memang unik karena keribetannya akan jadi sumber kritik pedasnya. Nah, orang ini benar-benar memalukan!!! Sungguh!!! Kadang saya yang jadi malu sama orang lain punya teman yang begitu merugikan ini.

Ada lagi seorang ibu wanita karier yang tidak bisa menerima kalau orang lain lebih sukses darinya. Iri hati dan pada akhirnya menjelek-jelekkan orang yang dianggap rivalnya. Jadi teman si wanita karier ini punya mobil baru dengan berbagai kemewahannya, dan yeah bisa ditebak, si wanita karier mengungkit-ungkit mobil baru temannya dengan nada sarkastis di setiap ada kesempatan.

Seorang anak muda yang baru saja masuk bangku perkuliahaan tidak bisa kalau gadgetnya lebih jelek dari milik temannya, ya minimal sama lahh. Herannya, kalau ada temannya yang beberapa tingkat keburukan gadgetnya jauh di bawahnya, anak muda tadi akan mengenyek habis-habisan.
Dan percaya atau tidak, itu semua benar-benar ada, saya kenal pelakunya!!!! “Tolong ditangkap saja, pak polisii”

Untuk kali ini saya tidak bisa menganalisis bagaimana bisa orang-orang di atas begitu terobsesi akan sesuatu. Obsesi yang kalau diolah dengan baik akan jadi hal positiv malah jadi merugikan orang lain.

Ada teman yang punya mobil antik?? Saya tak iri, saya hanya mau numpang berfoto.
Jangan tanya siapa laki-laki yang ada di foto, saya tak kenal. 

Nah sekarang saya mau bersombong sedikit akan sikap saya yang tak memiliki obsesi negativ. Begitni ya saya kok justru akan mengucap syukur kalau orang lain lebih berhasil, saya senang adik saya bisa dapat beasiswa meskipun saya tidak pernah. Dan saya sungguh benar-benar senang, bukan yang malah menjelek-jelekkan. Saya senang teman saya sudah menikah dan memiliki bayi yang luar biasa lucu ditambah rumah dan mobil miliknya pribadi, saya pun iri, tapi saya tak mau bercapek-capek mencari celah untuk menjelek-jelekkan mereka. Saya cukup tau kemampuan saya dan sayapun tak mau berlebihan #merendah.

Kasihan sekali orang-orang yang terlalu terobsesi akan milik orang lain. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar perasaan tak puas. Dan pasti rasanya lelah sekali menuruti nafsunya pada dunia. Kurang bersyukur, itu saja intinya. 


Selasa, 25 September 2012

Panggilan Sayang


Hasil dari online pagi-pagi...

Saya nggak habis pikir sama teenagers sekarang, masih pacaran kok panggilan kesayangannya sudah “mama-papa”, ada juga yang saling memanggil “ummi-abi” , mau yang lebih lucu?? Sepasang ex-murid saya saling memanggil “ayah-bunbun” # tepok jidat. Pelakunya adalah ABG labil baru lulus kemarin sore. Saya sebagai orang didikan jaman maen kelereng masih hits tentu saja heran.

“Eh mawar sama bagus (nama samaran) sudah menikah kah??” Tanya saya lugu. Mereka hanya cengengesan. Helloo guys, kami yang sudah mature begini saja masih saling memanggil “sayang, honey, beib, cinta” kok kalian yang baru lahir kemarin sore sudah manggil dengan panggilan berat begitu. Kayak lu tau urusan rumah tangge ajjjeeehhh.

Tapi tak apa, itu hak masing-masing. Sejujurnya saya menikmati juga keanehan mereka. Saya baru akan  menyindir mereka kalau perut saya sudah kejang-kejang mau muntah menertawakan update status mereka, atau kalau mereka sudah mulai saling memanggil “aki-nini” . LOL

Jadi  pertanyaannya sekarang adalah: mengapa teenagers memanggil dengan panggilan seberat itu, dan mengapa kami yang sudah mature masih memanggil dengan panggilan yang lebih masuk akal??

Ini contoh panggilan sayang yang jauuuuuuuuuuhh dari romantis  :p

Kalau untuk kami yang mature sih sudah jelas, we do not have a baby yet, jadi wajar kalau kami masih seperti orang pacaran. Saya pasti akan melotot kalau tiba-tiba pasangan saya memanggil dengan panggilan ‘bunbun’, plus bonus tamparan kalau panggilan itu dilakukan di kampus!! Lagipula menurut saya panggilan ‘sayang’ dan sejenisnya lebih dimaklumi secara internasional (you know that I mean ha!), mesra dan kelihatan lebih muda, fresh, abg, unyu-unyu. Nah kok ini yang teenager malah pakai yang old school.

Apapun itu, 
Panggilan sayang adalah bentuk ekspresi sepasang kekasih, bisa juga antar teman (saya memanggil seorang sahabat saya dengan panggilan ‘nok’) yang menyatakan kedekatan mereka secara personal. Tentu saja panggilan sayang ini sesuai kesepakatan bersama, dan tidak ada batasan dalam pemakaian kata dalam panggilan sayang, selagi itu tidak bersifat mengejek.

Ada yang lucu, teman saya ada yang diam-diam waktu pacaran saling memanggil mama-papa, saya baca smsnya (maaf)!! Dan apa yang terjadi ketika mereka sudah menikah?? Tentu saja kembali ke habitat mereka, panggilannya berubah jadi ibu-bapak.

Saya belajar satu hal, bahwa panggilan sayang pada pasangan bisa berubah setelah mereka menikah. Inilah bentuk keheranan saya akan perkembangan dunia perpacaranan. 

Ngomong-ngomong, saya masih mencari dimana letak keromantisan panggilan "mama-papa, ummi-abi, ayah-bunda" yang dilakukan oleh para ABG labil. 


Sabtu, 15 September 2012

Bibit dan Jathilan

Salam!!!

Lagi heboh nih masalah Bibit Waluyo, seorang gubernur yang berpidato bahwa kesenian Jathilan adalah kesenian terjelek di dunia. 

Begini ya, mari kita tanggapi dengan positif pernyataan pedas bibit waluyo tentang Jathilan (Kuda Lumping/ Jaranan). Saya termasuk pengamat Jathilan walau lingkupnya baru di kabupaten Sleman dan kebetulan tugas penelitian akhir saya mengangkat masalah Jathilan ini.

Pernyataan saya sama seperti yang lain, tidak pantas seorang pemimpin bereaksi sangat negatif tentang kesenian daerah yang dipimpinnya. Saya khawatir, kalau Jathilan ini diklaim milik negara tetangga, Bibit sebagai pribadi juga tidak begitu peduli.

Tapi baiklah, mari kita bedah pelan-pelan. Kesenian Jathilan adalah kesenian rakyat yang memang kurang anggun dibanding dengan kesenian kraton yang lemah gemulai. 

Dalam tarian terdiri dari empat babak. Satu babak sendiri ada dua macam sesi, sesi menari dalam keadaan sadar dan sesi trance/kesurupan. Sesi kesurupan inilah yang menurut saya luar biasa menarik. Aksi yang di luar kontrol diri, makan beling, menari-nari tak beraturan, bagaimana pawang menabur kembang lalu menyadarkan para anak buahnya adalah sesuatu yang membuat kita ikut berdebar. Apaplagi kalau di tengah-tengah acara ada penonton yang ikut kesurupan, hawanya makin mistis. 

Sesi yang pertama inilah yang mungkin kurang asik, sesi ketika para anggota jathilan (tidak termasuk pawang) menari-nari dalam keadaan sadar sesuai dengan latihan mereka. Maaf, tarian yang sama dalam waktu yang sangat lama itu membosankan. Bagi yang tau makna dari tarian yang mereka tarikan pun tetap membosankan, ditambah dengan ekspresi para penari yang adem-adem saja. Coba ekspresi mereka dibikin lebih seram, atau sambil senyum, jangan anteng aja. Ekspresinya manaaaaaaaaa!!!!

Mungkin ini pula yang membuat Bibit bosan, karena sepertinya Bibit tidak melihat sesi trance nya. Sayang sekali.


Jumat, 17 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan 2012

Merdeka 2012....



Bahkan Google-pun ikut merayakan :)

Bagaimana kalian merayakan kemerdekaan kali ini? Kalau saya biasanya  mengikuti upacara di sekolah, tapi berhubung hari ini sudah libur sekolah, maka saya di rumah saja. Memasak untuk Hari Raya dua hari lagi.

Indonesia sudah 67 tahun. FYI, Indonesia adalah negara ASEAN yang merdeka pertama kali. Beberapa negara merdeka karena 'diberi' oleh negara yang menjajah, tapi Indonesia merebut kemerdekaannya sendiri. Bukankah itu suatu yang hebat. 

Ada yang bilang Indonesia belum siap merdeka, tata negara belum kokoh, dan berbagai macam alasan lainnya. Menurut saya, untuk merdeka tidak butuh persiapan sama sekali. Apalagi posisi Indonesia adalah merebut kemerdekaan, karena negara yang menjajah (Jepang) pun sudah kalah oleh sekutu. Kalau merdeka harus rempong pakai persiapan menata pemerintahan dulu atau menunggu jadi negara kaya dulu, saya yakin kalau Indonesia belum tentu sudah merdeka saat ini.

Jadi, Apakah kalian sudah merasa merdeka?? 

Kamis, 21 Juni 2012

"Sesuatu" untuk Nur


Bismillah

Beberapa waktu yang lalu saya satu travel dengan seorang cewek berumur sekitar 14 tahun. Putus sekolah. Pembantu Rumah Tangga. Kami sama-sama terjebak macet berjam-jam di daerah puncak. Seperti biasa, saya mendakadak menjadi seorang yang crewetnya minta ampun. Ingin tau kehidupannya. Dan setelah saya tau, saya sebagai seorang yang hidup di lingkungan –mampu- menyimpulkan bahwa kehidupan gadis ini sungguh mengenaskan.



Nur. Seorang gadis di bawah umur yang putus sekolah, harus bekerja karena adiknya ada 4 orang, orang-tuanya jadi pembantu juga, terjebak di Jakarta dengan begitu ketatnya persaingan kerja. Terjebak pada kondisi kemiskinan struktural yang mengakar pada keluarganya.

Saya mendadak menjadi Kak Seto dan Tung Dasem Waringin dalam waktu bersamaan. Mendengarkan dengan sabar ceritanya, memberikan motivasi, sampai memberi tips agar dia mendapatkan pacar yang baik. Saya juga memberinya iming-iming bahwa belajar di kampus itu sangat menyenangkan. Ini, mungkin bisa jadi pukulan berat buatnya, tapi sebisa mungkin saya memakai bahasa segaul dan seumur dan setingkat dengannya agar saya tak terlalu sombong.



Tapi rasanya semua saran saya mentok pada satu kata –ekonomi-.

Putar otak dan tak mau mengasihani nasibnya tanpa melakukan sesuatu. Berniat menolongnya dengan motivasi ala Mario Teguh, meskipun menurut adik saya, hidup itu tak semudah kata Mario Teguh.

Jadi kira-kira beginilah yang saya katakan pada Nur,

“Nur, Kamu memang sekarang putus sekolah. Tapi ada caranya supaya kamu tetap belajar dan bisa jadi pinter. SATU, kamu harus suka dan rajin membaca. Ada koran majikan, ada apapun di depan matamu, bacalah!! Mungkin kamu sekarang tidak paham sama yang kamu baca, tapi paksalah untuk tetap membaca. Nanti kamu akan paham dan menemukan sendiri maksudnya. Kamu mau kuliah setinggi apa dan sejauh mana, modal utamanya harus rajin baca buku. Ada koran bekas bungkus tempe, tulisan nggak jelas di belakang obat nyamuk, buku setebal bantal punya majikanmu, bacalah. Pokoknya baca nur!!! Baca, pelajari, dan kemudian pahami. Kan kamu tau sendiri, ayat pertama al-Qur’an adalah.... (bla bla bla) #sok religius.



“Terus setelah belajar baca, belajarlah menulis. Kamu tulis buku harian, terus nanti lama-lama kamu tulis ulang apa yang kamu baca menurut pemahamanmu. Jangan lupa kalau ada bacaan yang kamu suka, pelajari cara penulisannya. Tulislah menurut pendapatmu sendiri. Sesukamu.

“Kalau kamu sudah semuanya, Kamu banyak dapat pengetahuan dari bacaan yang kamu baca, lalu kamu belajar bicara, ngomong yang tegas, lugas, percaya diri, anggun, berkelas, berisi. Nah ini agak susah Nur, Karena ini dipelajari di perguruan tinggi. Tapi nggak papa, kamu bisa belajar lewat kaca di kamarmu. Bicara yang tidak menyakiti, bicara yang santun, kemukakan keinginanmu dan pengetahuanmu dengan bijak. Jangan berbohong ketika kamu bicara, apa adanya saja. Yang ini agak susah ya Nur, tapi kalau kamu menguasai semua hal tiga di atas. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Keberuntungan, kesempatan, biaya, akan lebih mudah kalau kamu sudah bisa mengkombinasikan tiga hal tadi. “

Mau Jadi guru Besar?? Mimpi saja, kalau kau tak mau rajin membaca


Si Nur wajahnya lebih sumringah, saya ke-GR-an mengira dia termotivasi. Tapi bener lho, itu solusi dadakan saja saat itu. Dalam hati saya membatin, saya sekolah tinggi, percuma kalau saya tidak bisa merubah pandangan Nur tentang kehidupan. Saya bukan generasi cuek!!
Sementara itu, lelaki disebalah saya membisiki “Kalau semua pembantu kamu ceramahi begitu, terus jadi pinter, nanti tidak ada lagi yang mau jadi pembantu yang dibayar murah.” Sayangnya, lelaki berpikiran klise itu adalah suami saya. Oooohh




Ini jawaban saya “Saya mengajari mereka bukan untuk jadi pembelot yang kasar. Tapi agar mereka jadi seorang yang bisa dihargai sesuai kemampuan mereka. Kalaupun mereka tetap jadi pembantu, maka mereka adalah pembantu yang dibayar dengan profesionalitas kerjanya, bukan dibayar kerena kasihan.”

Semangat!!!!!! untuk semua orang yang merasa tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan setingkat profesor

Jumat, 18 Mei 2012

Happiness

Bismillah...


"Are You Happy?" Saya ditanya seorang sahabat dekat.

Saya tau, maksudnya adalah, 'apakah saya bahagia setelah menikah'. Jadi saya berpikir lama. Bahagia yang seperti apa? Apa ukuran bahagia sebenarnya.

Uang? Jadi kalau sudah bisa bermewah-mewahan itu dinamakan bahagia? mau belanja apapun bisa, kapanpun bisa, tak ada istilah tanggal tua dan tanggal muda. Kedengarannya memang sangat menyenangkan. Satu-satunya obat stres paling mujarobah adalah membelanjakan uang. Saya juga mau seperti itu. Tapi saya sejuta persen mempercayai ini 'money can't buy us happiness'. Percayalah, saya pernah merasakannya. Jadi uang bukanlah ukuran kebahagiaan setidaknya menurut saya.

Tanpa masalah?? Oh yeah, ini benar-benar impian saya. Tapi jelas tak mungkin kan, uantuk apa kau hidup kalau bukan untuk menyelesaikan PR yang diberikan Tuhan, inilah caranya kita naik pangkat di hadapan Tuhan. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah. Jadi saya berpikir ukuran bahagia bukanlah hidup tanpa masalah. 

Kemudian saya dengan sok memasamkan muka, menjawab pertanyaan teman saya tadi.
" Belum. Saya belum bahagia"

Karena bahagia menurut saya adalah bisa berbagi. Selalu memberi. Membantu. Ketika saya sudah bermanfaat untuk orang lain. Ketika saya bisa menyumbangkan apa yang saya miliki untuk kepentingan individu maupun kelompok. Ketika saya melihat orang tersenyum (atau menangis) dan dengan bangga mengatakan 'trimakasih banyak' atas hasil kerja saya. Ketika pemikiran saya bisa menginspirasi orang. Saya akan pastikan kalau saya bahagia pada saat itu. 


Dan saya sekarang dalam proses menuju kebahagiaan saya. 

Senin, 14 Mei 2012

HBT me......

Alhamdulillah..

Saya Ulang Tahun, Jangan tanya yang keberapa, karena saya adalah pengikut pepatah ini "Jangan Tanyakan Umur pada Wanita, dan Jangan Tanyakan Besar Gaji pada Laki-laki"

Seiring dengan bertambahnya usia ditambah tingkat kematangan dalam berpikir saya yang makin kacau dewasa, ternyata saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa ulang tahun itu tidak begitu penting dan malah sangat memalukan. 

Memalukan? Iya benar, Karena saya sudah mulai putus asa, berharap ada yang mau memberi saya tunjangan pendidikan gratis sampai tingkat profesor kelak plus biaya hidup berfoya-foya #matre. Btw, inilah daftar teratas dari wish list saya. Daftar lainnya yang masih sama tak kesampaian, saya ingin jalan-jalan menyusuri sisa-sisa peradaban Islam di dunia. Ya ampun, memalukan sekali, Dunia pula!!! 

Mungkin tidak saya menang lotre lalu membeli rumah ini?? TIDAK!!!
Well yeah, itulah harapan. Mimpi. Seharusnya bisa terwujud kalau kita mau berjuang dengan sangat keras. Make a Wish saya tahun ini , saya harus menyelesaikan program master saya, dan saya harus punya pemasukan  finansial sendiri yang bisa membuat saya tiap bulan pergi berlibur di seluruh pantai di Indonesia!!!!! Sebenarnya ini bukan make a wish tahun ini saja, beberapa tahun ke belakang sepertinya saya juga menginginkan ini. 

Btw, Terimakasih yang sudah mendoakan saya, terutama teman-teman di facebook. Saya yakin 100% doa lewat facebook juga diijabahi oleh Tuhan. Bukankan Tuhan sangat pemurah. 

Masih Pengantin Baru


Bismillah...


Sudah tiga bulan lebih dua hari saya menjadi seorang istri. Apa kabar anyway? Tidak terlalu baik. Percayalah, untuk anak manja seperti saya, menikah bukan sesuatu yang mudah. Belajar dan terus belajar tentang bagaimana menjadi istri yang baik tanpa mengorbankan diri sendiri. Hei, mengorbankan diri sendiri? kedengarannya mengerikan sekali!!! 

Lebih pada masalah teknis saja sebenarnya, seperti saya yang tak pernah bisa bangun pagi sekarang jadi harus bangun pagi, saya yang tak pernah sudi disuruh-suruh sekarang harus menjadi separo pembantu lebih giat lagi.

Tapi Alhamdulillah, semua harus disyukuri. Bahwa saya sudah menikah, itu adalah hal yang luar biasa untuk saya yang tadinya tak percaya dengan lembaga pernikahan. 








Selasa, 20 Desember 2011

Membeli Seserahan

Salam

Sekedar berbagai kalau ada yang mau membeli seserahan. Seserahan adalah barang-barang yang diberikan  pihak suami kepada calon istrinya. Biasanya diserahkan pada waktu lamaran atau bisa juga pada waktu akad nikah. Filosofi seserahan adalah, bahwa nantinya setelah menikah si suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya. Oleh karena itu isi seserahan bisa bermacam-macam, mulai dari beras hingga dalaman baju! Seserahan adalah simbol dari sebuah pertanggung jawaban suami terhadap istri yang diformalkan  dalam sebuah prosesi adat yang super njlimet.

Apa saja isi seserahan? Silahkan cek wedding blog lain, aku hanya memberi tips internal.

Biasanya pembelian seserahan dilakukan oleh ibu atau pihak keluarga laki-laki, tapi sekarang ini pihak perempuan yang memilih sendiri seserahannya. Dipilih sendiri, dibayari calon suami, dipakai sendiri. Asik sekali!!!! tapi tunggu dulu, tidak seasik itu kawan, percayalah, aku mengalaminya!!! Setiap belanja selalu diakhiri acara sensitif dan lain-lain.

"Bantu hamba memilih seserahan ya Tuhan".
Doa seperti ini memalukan, tapi memang diperlukan
Jadi, aku memberi tips, seperti kataku tadi, tips internal agar kalian tidak kaget.
  1. Putari seluruh mall, pasar, dan toko. Bandingkan harga,pilih yang terbaik.
  2. Jangan membeli barang yang sedang In Style. Fashion cepat sekali berubah, honey. Bulan ini aku beli baju model animal print, tapi saat seserahan harus diserahkan, animal print sudah digantikan kain tie dye ala-ala Dian Pelangi gitu. Jadi, belilah sesuatu yang lebih clasic, abadi. Bisa dipakai di musim apapun. 
  3. Peralatan mandi juga termasuk seserahan. Tapi tolong jangan beli sabun untuk kulit gatelan yang beraroma menyengat, meskipun setiap hari kalian pakai itu. Karena peralatan mandi juga ikut dihias, tamu-tamu akan membatin kalau tubuh calon pengantin penuh dengan panu kadas kurap. Sekali ini saja, belilah yang pantas untuk dipajang. Aku rekomendasikan produk The Body Shop. Prestis kawan! #promosi
  4. Kalian dari kalangan akademisi? Dari pada membawa kambing untuk dijadikan seserahan, lobi calon suami untuk mengganti seekor kambing dengan MC.BOOK.
  5. Membeli Baju tidur yang transparan dan super mini, perhatikan bentuk tubuh kalian. Jangan sampai calon suami jadi pingsan di malam pertama, melihat perpaduan tidak masuk akal badan dengan bulu-bulu seksi+baju tidur motif leopard. Nanti dia berpikir jangan-jangan sudah salah menikahi seekor singa dari kebun binatang. Atau malah kesenengan karena istrinya mendadak menjadi personel Trio Macan.
  6. "Pilih sesuai fungsinya,
    Tuan Putri, jangan yang mahal"
  7. Ini yang sering jadi pertengkaran: perempuan suka barang mahal VS laki-laki yang mengedapankan prinsip ekonomi praktis alias pengiritan. Biacarakan ini baik-baik.
Misal:
Tuan Putri: Kain rayon sutra tadi bagus ya mas (kain rayon sutra seharga lima ratus ribu/ dua meter)
Mr. MM: It’s five hundred thousands rupias, honey. Beli kain katun seperti ini bisa dapat banyak dan lebih enak dipakai (sambil memegang kain katun jepang dengan motif seperti seprai)
Tuan Putri: kalau gitu mari cari ditempat lain. Siapa tau ada yang yang lebih murah dengan bentuk yang sama
Mr. MM: &^&^%&^%$%$##$@

  1. Sebisa mungkin jangan belanja sama calon suami. Laki-laki suka berpikir praktis, mereka pikir dengan datang cukup sekali ke satu mall bisa mendapatkan seluruh isi seserahan dengan harga miring. Tidak seperti itu laki-laki, kami harus benar-benar memastikan barang yang kami beli ‘sempurna’ secara keseluruhan. Membawa laki-laki belanja akan membuat kesetresan calon pengantin perempuan semakin meningkat.
  2. Kalau terpaksa harus belanja sama calon suami, sebaiknya kalian sudah siap memilih barang-barang sebelumnya. Begini misalnya, sehari sebelumnya putari dulu seluruh mall, besoknya ajak calon suami membayar apa yang jadi incaranmu.
  3. Masih terpaksa jalan sama calon suami juga? Kemana teman-teman perempuan kalian? Ok ok, just kidding. Alokasikan waktu dengan baik, misalnya: belanja-makan-belanja-nonton. Harus diakhiri dengan sesuatu yang asik. Paham kan?
You wanna this??
Baiklah dear, itu saja yang bisa aku bagi. Semoga bermanfaat.