Tampilkan postingan dengan label Politik Phobia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik Phobia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2012

Bibit dan Jathilan

Salam!!!

Lagi heboh nih masalah Bibit Waluyo, seorang gubernur yang berpidato bahwa kesenian Jathilan adalah kesenian terjelek di dunia. 

Begini ya, mari kita tanggapi dengan positif pernyataan pedas bibit waluyo tentang Jathilan (Kuda Lumping/ Jaranan). Saya termasuk pengamat Jathilan walau lingkupnya baru di kabupaten Sleman dan kebetulan tugas penelitian akhir saya mengangkat masalah Jathilan ini.

Pernyataan saya sama seperti yang lain, tidak pantas seorang pemimpin bereaksi sangat negatif tentang kesenian daerah yang dipimpinnya. Saya khawatir, kalau Jathilan ini diklaim milik negara tetangga, Bibit sebagai pribadi juga tidak begitu peduli.

Tapi baiklah, mari kita bedah pelan-pelan. Kesenian Jathilan adalah kesenian rakyat yang memang kurang anggun dibanding dengan kesenian kraton yang lemah gemulai. 

Dalam tarian terdiri dari empat babak. Satu babak sendiri ada dua macam sesi, sesi menari dalam keadaan sadar dan sesi trance/kesurupan. Sesi kesurupan inilah yang menurut saya luar biasa menarik. Aksi yang di luar kontrol diri, makan beling, menari-nari tak beraturan, bagaimana pawang menabur kembang lalu menyadarkan para anak buahnya adalah sesuatu yang membuat kita ikut berdebar. Apaplagi kalau di tengah-tengah acara ada penonton yang ikut kesurupan, hawanya makin mistis. 

Sesi yang pertama inilah yang mungkin kurang asik, sesi ketika para anggota jathilan (tidak termasuk pawang) menari-nari dalam keadaan sadar sesuai dengan latihan mereka. Maaf, tarian yang sama dalam waktu yang sangat lama itu membosankan. Bagi yang tau makna dari tarian yang mereka tarikan pun tetap membosankan, ditambah dengan ekspresi para penari yang adem-adem saja. Coba ekspresi mereka dibikin lebih seram, atau sambil senyum, jangan anteng aja. Ekspresinya manaaaaaaaaa!!!!

Mungkin ini pula yang membuat Bibit bosan, karena sepertinya Bibit tidak melihat sesi trance nya. Sayang sekali.


Sabtu, 10 Desember 2011

Penyakit "Lupa Berat" (tapi masih ingat orang ngutang)

Alhamdulillah

Good news!! Nunun Nurbaeti Darojatun akhirnya ditangkap setelah buron entah berapa lama. Suaminya, Darojatun adalah mantang waka polri, pernah mencalonkan diri jadi calon gubernur DKI Jakarta. Nunun sendiri  adalah sosialita yang namanya sering disebut-sebut oleh para tersangka kasus BLBI. Tapi sekalipun Nunun ini tak pernah hadir dalam persidangan, alasannya? Menderita ‘penyakit lupa berat’. Ahay!! Alasan yang sangat “masuk akal”, nyonya. Sayangnya penyakit seperti itu tidak pernah ada, beberapa dokter memastikan dengan mempertaruhkan kariernya sebagai dokter. Penderita amnesia tidak bisa jalan-jalan sendiri ke Bangkok.

Masalahnya adalah, aku ingin sekali terkena penyakit lupa berat. Lupa berat akan semua tugas yang harus ku selesaikan, lupa berat akan kuliahku, lupa berat kalau aku sudah hampir menjadi a bride to be dan masih berumur 17 tahun.

Ini sama dengan lari dari masalah

Tapi, sepintar-pintarnya orang berlari dari masalahnya atau mengabaikan kewajibannya, pasti dia akan kembali dengan kondisi jiwa yang mungkin lebih siap tapi bisa juga lebih parah. Untuk seumuranku, masalah bukan lagi menjadi hal seru-seruan seperti waktu SMA, menangis lalu beres. Masalah harus dihadapi, seberapa beratnya masalah itu.

Begitu masalah selesai, plong, 
Congratulation, karena akhirnya kita bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik. 

mana bisa kena penyakit "Lupa Berat" kalau tumpukan ini masih ada di meja

Insyallah...

Ngomong-ngomong, Selamat untuk KPK. Semoga penangkapan Nunun ini tidak 'diatur dari sononya' demi kepentingan pihak-pihak tertentu.