Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pulam) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapaun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Terj. QS. Ad- Dhuha)
Tampilkan postingan dengan label Sebelum Cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebelum Cahaya. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Mei 2013
Time to Dhuha
Kamis, 21 Juni 2012
"Sesuatu" untuk Nur
Bismillah
Beberapa waktu yang lalu saya satu travel dengan seorang
cewek berumur sekitar 14 tahun. Putus sekolah. Pembantu Rumah Tangga. Kami
sama-sama terjebak macet berjam-jam di daerah puncak. Seperti biasa, saya
mendakadak menjadi seorang yang crewetnya minta ampun. Ingin tau kehidupannya. Dan
setelah saya tau, saya sebagai seorang yang hidup di lingkungan –mampu-
menyimpulkan bahwa kehidupan gadis ini sungguh mengenaskan.
Nur. Seorang gadis di bawah umur yang putus sekolah, harus
bekerja karena adiknya ada 4 orang, orang-tuanya jadi pembantu juga, terjebak
di Jakarta dengan begitu ketatnya persaingan kerja. Terjebak pada kondisi
kemiskinan struktural yang mengakar pada keluarganya.
Saya mendadak menjadi Kak Seto dan Tung Dasem Waringin dalam
waktu bersamaan. Mendengarkan dengan sabar ceritanya, memberikan motivasi,
sampai memberi tips agar dia mendapatkan pacar yang baik. Saya juga memberinya
iming-iming bahwa belajar di kampus itu sangat menyenangkan. Ini, mungkin bisa
jadi pukulan berat buatnya, tapi sebisa mungkin saya memakai bahasa segaul dan
seumur dan setingkat dengannya agar saya tak terlalu sombong.
Tapi rasanya semua saran saya mentok pada satu kata –ekonomi-.
Putar otak dan tak mau mengasihani nasibnya tanpa melakukan
sesuatu. Berniat menolongnya dengan motivasi ala Mario Teguh, meskipun menurut
adik saya, hidup itu tak semudah kata Mario Teguh.
Jadi kira-kira beginilah yang saya katakan pada Nur,
“Nur, Kamu memang sekarang putus sekolah. Tapi ada caranya
supaya kamu tetap belajar dan bisa jadi pinter. SATU, kamu harus suka dan rajin
membaca. Ada koran majikan, ada apapun di depan matamu, bacalah!! Mungkin kamu
sekarang tidak paham sama yang kamu baca, tapi paksalah untuk tetap membaca.
Nanti kamu akan paham dan menemukan sendiri maksudnya. Kamu mau kuliah setinggi
apa dan sejauh mana, modal utamanya harus rajin baca buku. Ada koran bekas bungkus
tempe, tulisan nggak jelas di belakang obat nyamuk, buku setebal bantal punya
majikanmu, bacalah. Pokoknya baca nur!!! Baca, pelajari, dan kemudian pahami.
Kan kamu tau sendiri, ayat pertama al-Qur’an adalah.... (bla bla bla) #sok
religius.
“Terus setelah belajar baca, belajarlah menulis. Kamu tulis
buku harian, terus nanti lama-lama kamu tulis ulang apa yang kamu baca menurut
pemahamanmu. Jangan lupa kalau ada bacaan yang kamu suka, pelajari cara
penulisannya. Tulislah menurut pendapatmu sendiri. Sesukamu.
“Kalau kamu sudah semuanya, Kamu banyak dapat pengetahuan
dari bacaan yang kamu baca, lalu kamu belajar bicara, ngomong yang tegas,
lugas, percaya diri, anggun, berkelas, berisi. Nah ini agak susah Nur, Karena
ini dipelajari di perguruan tinggi. Tapi nggak papa, kamu bisa belajar lewat
kaca di kamarmu. Bicara yang tidak menyakiti, bicara yang santun, kemukakan
keinginanmu dan pengetahuanmu dengan bijak. Jangan berbohong ketika kamu
bicara, apa adanya saja. Yang ini agak susah ya Nur, tapi kalau kamu menguasai
semua hal tiga di atas. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan.
Keberuntungan, kesempatan, biaya, akan lebih mudah kalau kamu sudah bisa
mengkombinasikan tiga hal tadi. “
| Mau Jadi guru Besar?? Mimpi saja, kalau kau tak mau rajin membaca |
Si Nur wajahnya lebih sumringah, saya ke-GR-an mengira dia
termotivasi. Tapi bener lho, itu solusi dadakan saja saat itu. Dalam hati saya
membatin, saya sekolah tinggi, percuma kalau saya tidak bisa merubah pandangan
Nur tentang kehidupan. Saya bukan generasi cuek!!
Sementara itu, lelaki disebalah saya membisiki “Kalau semua
pembantu kamu ceramahi begitu, terus jadi pinter, nanti tidak ada lagi yang mau
jadi pembantu yang dibayar murah.” Sayangnya, lelaki berpikiran klise itu
adalah suami saya. Oooohh
Ini jawaban saya “Saya mengajari mereka bukan untuk jadi
pembelot yang kasar. Tapi agar mereka jadi seorang yang bisa dihargai sesuai
kemampuan mereka. Kalaupun mereka tetap jadi pembantu, maka mereka adalah
pembantu yang dibayar dengan profesionalitas kerjanya, bukan dibayar kerena
kasihan.”
Semangat!!!!!! untuk semua orang yang merasa tidak memiliki kesempatan
untuk mengenyam pendidikan setingkat profesor
Jumat, 18 Mei 2012
Happiness
Bismillah...
"Are You Happy?" Saya ditanya seorang sahabat dekat.
Saya tau, maksudnya adalah, 'apakah saya bahagia setelah menikah'. Jadi saya berpikir lama. Bahagia yang seperti apa? Apa ukuran bahagia sebenarnya.
Uang? Jadi kalau sudah bisa bermewah-mewahan itu dinamakan bahagia? mau belanja apapun bisa, kapanpun bisa, tak ada istilah tanggal tua dan tanggal muda. Kedengarannya memang sangat menyenangkan. Satu-satunya obat stres paling mujarobah adalah membelanjakan uang. Saya juga mau seperti itu. Tapi saya sejuta persen mempercayai ini 'money can't buy us happiness'. Percayalah, saya pernah merasakannya. Jadi uang bukanlah ukuran kebahagiaan setidaknya menurut saya.
Tanpa masalah?? Oh yeah, ini benar-benar impian saya. Tapi jelas tak mungkin kan, uantuk apa kau hidup kalau bukan untuk menyelesaikan PR yang diberikan Tuhan, inilah caranya kita naik pangkat di hadapan Tuhan. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah. Jadi saya berpikir ukuran bahagia bukanlah hidup tanpa masalah.
Kemudian saya dengan sok memasamkan muka, menjawab pertanyaan teman saya tadi.
" Belum. Saya belum bahagia"
Karena bahagia menurut saya adalah bisa berbagi. Selalu memberi. Membantu. Ketika saya sudah bermanfaat untuk orang lain. Ketika saya bisa menyumbangkan apa yang saya miliki untuk kepentingan individu maupun kelompok. Ketika saya melihat orang tersenyum (atau menangis) dan dengan bangga mengatakan 'trimakasih banyak' atas hasil kerja saya. Ketika pemikiran saya bisa menginspirasi orang. Saya akan pastikan kalau saya bahagia pada saat itu.
Dan saya sekarang dalam proses menuju kebahagiaan saya.
Sabtu, 01 Oktober 2011
Sebelum Cahaya (Part I)
Es Batu dan Kepala Batu
“Kamu jatuh cinta, Honey” kata sahabatku tersenyum misterius,
Rasanya seperti ada sebongkah es batu mengalir di dadaku, dingin.. Aku takut.
“Menurutmu ini baik atau buruk?” tanyaku pelan. Wajahku kutundukkan, ada perasaan malu dan takut sekaligus
“Tentu saja ini baik, sangat baik malah.” Jawabnya tak sabar
“Aku takut.” Kataku lagi,
“Oh ayolah, aku sudah bilang berkali-kali suatu saat ada akan ada laki-laki yang membuatmu mengkaji ulang konsep pernikahan konyolmu. Itu harus segera diakhiri, honey.
Sarah, selalu mengkritik konsep pernikahan versi idealku. Menurutku laki-laki TAK SEHARUSNYA menjadi seorang raja di rumahnya, menyuruh-nyuruh istri tanpa ampun. Bahwa mencuci, memasak, mengurus anak, mengepel rumah, bersosialisasi dengan tetangga, menghadapi kritik pedas mertua (plus saudara ipar) adalah sepenuhnya tanggung jawab si perempuan dan laki-laki selalu tak bisa diajak berdiskusi (hallo laki-laki, ada apa dengan kalian??).
Sebenarnya menurutku ini adalah cara laki-laki menutupi kelemahan mereka (sebagai pemimpin) dengan cara tidak fair. Membebankan semuanya pada istrinya. Lebih parah lagi, budaya melegalkan posisi superior laki-laki yang seperti ini. Bahwa “saru” rasanya kalau ada laki-laki menanak nasi, tak pantas rasanya kalau sang suami tercinta harus menyapu rumah. Tetangga akan membicarakannya sepanjang masa, dan mertua akan mengutuk istri si laki-laki karena menyuruh suaminya bekerja dalam rumah.
Sarah (yang mewakili seluruh perempuan di Jawa) lebih bodoh lagi, dia merasa tidak tega kalau suaminya harus (ya ampun) membuang sampah. Ayolah women.... itu hanya membuang sampah.
“Aku tau kamu sedang jatuh cinta, karena kamu sudah melupakan seluruh teori gombalmu tentang pernikahan ideal. Ternyata saat ini tiba juga ya.” Sahut Sarah lagi,
“Sar, apa ada yang salah dengan pernikahan versiku?” tanyaku bertanya, lebih pada pertanyaan untuk diriku sendiri
“Hello, young lady... Tak ada orang waras minta libur menjadi istri walau itu cuma sebulan sekali!! Kamu bahkan meminta libur dua hari setiap minggu.
“Honey, menjadi istri bukanlah sebuah pekerjaan. Menjadi Istri itu melaksanakan ibadah” jawab sahabatku ini cuek, mengelap keringatnya. Menatapku sekilas. Tatapannya seperti mengatakan –kamu memang kepala batu, honey-
Lihatlah Sarah, dia dulu adalah seorang lady dari sebuah keluarga kaya raya. Sebelum menikahi pacarnya, pekerjaannya sebagai editor majalah kampus lumayan membuatnya sangat produktif. Dia bahkan diundang ke seminar-seminar tentang jurnalistik untuk perempuan. Cita-cita terbesarnya yaitu membuat buku. Itu dulu, sekarang?? Dia tak akan berdandan kecuali untuk menghadiri jamuan makan malam dengan kolega suaminya, bukan koleganya sendiri seperti dulu.
Daster, pakaian batik katun khas kota kami, Jogja, menjadi pakaian wajibnya, tentu saja dengan ukuran super besar. Dan oh Tuhan, (ampunilah dia) dia tak malu menyusui anaknya dimanapun anaknya menangis. Ayolah bu, ini 2011, sudah bukan jamannya ibu-ibu menyusui sembarangan tempat. Aku prihatin melihatnya. Membuatku takut untuk menikah. Bukan penampilan ataupun prinsip Sarah tentang pernikahan yang membuatku ngeri, bahwa Sarah sudah kurang produktif dalam dunia karier, itu yang membuatku ketakutan.
Sungguh, aku menghormati Ibu Rumah Tangga sedalam-dalamnya. Mereka berjasa bagi pendidikan generasi bibit unggul Indonesia. Hanya saja, aku masih tidak yakin aku bisa menjadi Ibu Rumah Tangga seutuhnya seperti sahabatku, dan ayolah, Ibu Rumah Tangga itu bukan jenis pekerjaan, ladies. Ibu Rumah Tangga tak mendapatkan gaji!!! Jadi jangan isi curiculum vitae "Ibu Rumah Tangga" pada kolom pekerjaan, meskipun kalian seorang Ibu Rumah Tangga, kecuali kalau kalian digaji tinggi oleh suami kalian, per-jam setiap hari!! Tidak tidak, aku bukannya mau merendahkan posisi Ibu Rumah Tangga agar mereka bekerja dengan tidak ikhlas, aku berharap ada semacam bentuk penghargaan saja, agar suami-suami yang kelewat manja tidak memperlakukan Istri Rumah Tangganya dengan sewenang-wenang.
“Percayalah honey, menjadi istri bukan suatu hal yang buruk. Jangan takut” katanya bijak sambil mengganti popok anaknya yang rewel sekali itu.
Eeerrr... benarkah?? Aku sendiri ngeri mendengar rengekan bayi Sarah yang minta ampun kerasnya.
(to be continue)
Langganan:
Postingan (Atom)
