Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pulam) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapaun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Terj. QS. Ad- Dhuha)
Selasa, 28 Mei 2013
Time to Dhuha
Senin, 29 April 2013
The Other Pantura
Bismillah...
Saya sempat tinggal
agak lama di sebuah daerah kecil di daerah Pantura, katakanlah nama daerah itu Gembili. Berdiam diri, tidak melakukan apapun
yang penting, datang sebagai makhluk asing buat mereka para penduduk. Makhluk
asing karena cara bepakaian saya tidak sama seperti mereka, saya tidak bekerja
dengan ulet seperti mereka, bahasa yang saya gunakan juga aneh di telinga
mereka, dan tentu saja cara saya memandang hidup berbeda dengan perempuan asli
sana. Saya dianggap berpendidikan, kaya, pintar, banyak uang sehingga sudah
tidak perlu bekerja. Terkadang sayapun dianggap bodoh oleh mereka karena saya
tidak juga memahami apa yang mereka katakan berkali-kali karena kesulitan
memahami bahasa. Bahasanya sebenarnya masih sama, bahasa Jawa, hanya saja
bahasa Jawa mereka itu intonasinya agak ditinggikan di bagian akhir kata, vokal
terakhirnya agak sedikit dipanjangkan. Kosakatanyapun banyak yang aneh di
telinga saya.
Dan ya Tuhan,
sulit sekali menemukan orang yang bisa berbahasa Jawa kromo hinggil di sana. Di
Jogja sudah ‘diwajibkan’ apabila bicara dengan orang yang lebih tua menggunakan
bahasa Jawa Kromo Hinggil, kalau tidak? Kamu akan dianggap sebagai pemuda nggak
tau diri. Saya yang tidak begitu pandai menggunakan bahasa Jawa lebih memilih
menggunakan Bahasa Indonesia sebagai komunikasi saya dengan para orang tua
kalau dalam situasi tertentu diharuskan berbicara yang agak lama dan panjang,
itupun biasanya saya kemudian dianggap sebagai orang Jawa yang tidak njawani. Orang Jogja mengamini filosofi
yang di anut oleh seorang Filsuf china kuno (lupa namanya :P) , bahwa “yang
membedakan kelompok dan status sosial seseorang adalah bahasanya.” Maka dari
itu mempelajari bahasa sangat penting. Apa yang keluar dari mulutmu menandakan
darimana dirimu berasal. Di Joga pula, siapapun yang menanyakan sesuatu pakai
bahasa kromo hinggil pasti akan di balas pakai bahasa kromo hinggil juga. Saya
terbiasa dengan budaya yang seperti itu. Sayangnya di Gembili ini tidak berlaku
yang begituan, anak setingkat sekolah dasar tetap menggunakan bahasa Jawa Ngoko
(bahasa standar pergaulan) ketika berbicara pada kakek-kakek. Semuanya begitu.
Jangan harap kamu menemukan anak yang berbicara halus pada orang tuanya.
Saya tidak
sedang membandingkan ‘mana yang baik-dan mana yang tidak baik’ antara dua
kebudayaan yang jelas berbeda lho ya, dari letak geografisnya saja sudah
berbeda, tentu saja budayapun berbeda pula. Saya dari daerah pegunungan, pusat
inti kerajaan (pemerintahan) dengan segala keruwetan budaya dan kekayaan
filosofinya, dan Gembili ini ada di pesisir. Pesisir yang sejak dulu terkenal
dengan keuletan karakternya, pekerja keras. Pesisir tempat arus lalu lintas
perdagangan di Nusantara, Islam masuk berawal dari daerah pesisir, termasuk
tempat transitnya perompak lautan pada zaman dahulu.
Jadi wajar saja
kalau saya sedikit mengalami shock culture.
Tapi begitulah
Pantura, dengan segala dinamikanya. Saya katakan berkali-kali mereka adalah
pekerja yang sangat ulet. Kecil-kecil sudah berani merantau, anak lulus Sekolah
Menengah sudah ngurban ke Jakarta dan kota-kota industri lainnya. Tidak
memandang gender, semua merantau. Bahkan ada kesan kalau seorang laki-laki muda
masih ada di desa maka dia bukanlah pemuda yang berani. Sukses saya lihat
masalah belakangan, yang penting berani dulu.
Saya yang sudah
dawasa begini saja belum berani merantau sendiri, dan belum pernah melamar
pekerjaan. Bagaimana mereka bisa menganggap saya banyak duit?
Minggu, 10 Maret 2013
"SLAMET"
Bismillah...
Masih ingat ada
berapa teman kita yang bernama “Slamet”?? Setidaknya ada empat orang slamet
yang saya kenal, dua orang slamet teman saya SD, satu orang di murid di sekolah, dan satu lagi saudara
saya. Tiga orang Slamet nama belakangnya
sama semua “Slamet Riyadi”, Itu yang saya kenal dekat, masih ada empat orang
slamet lagi yang saya tau wajah tapi tidak begitu dekat. Tentu saja nama Slamet
lebih banyak digunakan oleh orang Jawa, meskipun ada seorang Slamet dari pulau
Lombok yang saya kenal tak begitu dekat, dia mengaku kalau bapaknya menamainya
Slamet karena ingin anaknya jadi seorang presiden, karena presiden selalu orang
Jawa, dipilihlah nama Slamet sebagai nama anaknya, representasi dari cita-cita
sang bapak agar anaknya kelak menjadi presiden, meskipun dia bukan dari Jawa.
Slamet berasal dari kata salam, bahasa
arab yang artinya selamat. Selamat dari api neraka, selamat dari bujukan setan,
selamat dari dunia yang kejam, dari lilitan hutang, dari bayangan pembimbing tesis
(ini saya!), intinya selamat dari segala hal. Dalam doa sehari-hari saya selalu
menyertakan “selamat dunia dan akherat”, doa yang simpel, namun benar-benar
luas sekali maknanya.
| Slamet itu bersyukur |
Dari kata salam
dari bahasa Arab inilah kata slamet muncul.
Ketika kata salam sudah dibahasa jawakan artinya menjadi lebih luas lagi saya
kira, karena kecenderungan suku jawa yang senang sekali memfilosofikan sesuatu.
Memberikan arti yang sangat luas pada hal yang simpel. Lidah orang jawa yang sulit menirukan logat
orang Arab membuat kata Salam-salamah menjadi Slamet, syahadatain menjadi sekaten, Abdul Faqih menjadi Dul Pekik,
Assalamualaikum menjadi lamlekum, dan yang sekarang sedang jadi tren ngaco astaghfirullahal ‘adzim menjadi lebih
alay astajim.
Ini membuktikan
bahwa sebenarnya suku Jawa memiliki posisi tawar tinggi hingga menyaring banyak
hal yang masuk ke dalam ruang lingkupnya. Ketika agama dan budaya Hindu-Budha
masuk, masyarakat jawa tidak mentah-mentah mengambil kebudayaan dan agama
Hindu-Budha, begitu pula dengan Islam. Islam dengan membawa prinsip rahmata li alamin, tidak serta merta
ditelan mentah-mentah orang Jawa, ada komunikasi intens antara diantara
keduanya, dan komunikasi tersebut berjalan dengan sangat baik hingga saat ini.
Slamet adalah tujuan tertinggi manusia Jawa
dalam mencapai hidup yang tentrem, ayem. dan selanjutnya golek slamet
merupakan proses yang sangat rumit, penuh aturan, dan terkadang terlalu didramatisir.
Bagaimana manusia Jawa mengenal rites of
the passages, upacara sepanjang diri kita, atau lebih simpelnya
upacara-upacara yang menyertai hidup kita. Dimulai dari upacara paling awal
sejak bayi dalam kandungan, sampai upacara sesudah manusia meninggal, dari rogohan
hingga ngijing. Inti dari masing-masing upacara rites of the passages adalah golek
slamet, agar di babak kehidupan selanjutnya seseorang dapat menjalani
dengan baik. Golek slamet hakekatnya
adalah harapan agar hidup selalu dilingkupi perasaan ayem, tentrem, beruntung,
dan jauh dari kesialan.
Semoga bermanfaat
Senin, 05 November 2012
Jaga ucapanmu!!!
Hai!!
Lagi-lagi, tulisan ini adalah ungkapan atas kekecewaan saya atas perkembangan anak muda sekarang. Mungkin perasaan saya saat ini sama persis dengan perasaan miris orang tua ketika tau bahwa anak muda jaman saya dulu kalau pacaran sudah tidak pakai surat-suratan, tapi sudah mulai memakai henpon.
"Emang iyaa, Masalah buat lo??"
Slogan sebuah acara talkshow di trans tv sebenarnya, tapi kemudian kata-kata ini banyak dipakai remaja labil untuk mensekak temannya.
"Terus gue harus bunuh diri sambil bilang WOW getoooo??"
Kalau ada yang bilang begitu ke saya, saya tidak keberatan mengambilkan dia pisau dari dapur saya.
Kata-kata ini juga sepertinya hampir dipakai seluruh remaja labil. Sebenarnya saya pernah diam-diam bilang begitu , ketika suatu ketika seorang teman menyombongkan dirinya yang tidak pernah mau memakai barang murah dan merasa dirinya paling keren di lingkungannya.
Kesamaan dua kata itu adalah bukti bahwa remaja kita sudah kehilangan sebagian jati diri sebagai penerus bangsa yang peduli terhadap sesama.
Anak muda, sekedar nasehat saja, kata-kata individualis seperti itu tidak pantas diucapkan pada teman yang berusaha peduli pada kita. Dilarang keras juga diucapkan pada orang yang lebih tua dari kalian. Haram diucapkan saat mongomentari keluarga kalian meskipun mereka adik kalian.
Kalian hanya bisa menggunkan kalimat-kalimat tersebut kepada teman kalian SESAMA ALAY. Bisa juga pada orang yang sedang sengak pada kalian, tapi tolong perhatikan perbedaan antara sengak dan bercanda.
Jangan saling menyakiti, kalau kau tidak ingin disakiti.
Ada satu lagi yang bikin saya lumayan BT ketika membuka halaman facebook saya, seorang remaja yang entah kenapa selalu men-tag nama saya pada fotonya. Nah kalo ini bukannya pengen dicuekin, tapi malah cari perhatian. Berbagi foto silahkan saja ya, asalkan ada hubungannya dengan yang di-tag. Saya juga senang melihat foto-foto teman di facebook dan tentu saja berkomentar. Tapi tolong jangan men-tag foto yang tidak ada hubungannya dengan saya #galak
Pengen banget sebenarnya berkomentar pada fotonya "DO I LOOK.....CARE???? BIG NO NO NOO"
Tapi saya cukup bisa menahan diri, memilih pilihan bijak dengan menghapus hastag saya sendiri. Deal kan??
"Emang iyaa, Masalah buat lo??"
Slogan sebuah acara talkshow di trans tv sebenarnya, tapi kemudian kata-kata ini banyak dipakai remaja labil untuk mensekak temannya.
"Terus gue harus bunuh diri sambil bilang WOW getoooo??"
Kalau ada yang bilang begitu ke saya, saya tidak keberatan mengambilkan dia pisau dari dapur saya.
Kata-kata ini juga sepertinya hampir dipakai seluruh remaja labil. Sebenarnya saya pernah diam-diam bilang begitu , ketika suatu ketika seorang teman menyombongkan dirinya yang tidak pernah mau memakai barang murah dan merasa dirinya paling keren di lingkungannya.
Kesamaan dua kata itu adalah bukti bahwa remaja kita sudah kehilangan sebagian jati diri sebagai penerus bangsa yang peduli terhadap sesama.
Anak muda, sekedar nasehat saja, kata-kata individualis seperti itu tidak pantas diucapkan pada teman yang berusaha peduli pada kita. Dilarang keras juga diucapkan pada orang yang lebih tua dari kalian. Haram diucapkan saat mongomentari keluarga kalian meskipun mereka adik kalian.
| Mari kita kembalikan 'keramahan' sebagai ciri khas Indonesia |
Kalian hanya bisa menggunkan kalimat-kalimat tersebut kepada teman kalian SESAMA ALAY. Bisa juga pada orang yang sedang sengak pada kalian, tapi tolong perhatikan perbedaan antara sengak dan bercanda.
Jangan saling menyakiti, kalau kau tidak ingin disakiti.
Ada satu lagi yang bikin saya lumayan BT ketika membuka halaman facebook saya, seorang remaja yang entah kenapa selalu men-tag nama saya pada fotonya. Nah kalo ini bukannya pengen dicuekin, tapi malah cari perhatian. Berbagi foto silahkan saja ya, asalkan ada hubungannya dengan yang di-tag. Saya juga senang melihat foto-foto teman di facebook dan tentu saja berkomentar. Tapi tolong jangan men-tag foto yang tidak ada hubungannya dengan saya #galak
Pengen banget sebenarnya berkomentar pada fotonya "DO I LOOK.....CARE???? BIG NO NO NOO"
Tapi saya cukup bisa menahan diri, memilih pilihan bijak dengan menghapus hastag saya sendiri. Deal kan??
Minggu, 07 Oktober 2012
Terlalu Terobsesi
Bismillah....
Why everybody’s so obsessed???
Ada seorang teman saya yang gila
hormat, cita-citanya kepengen jadi anggota dewan, dan sepanjang persahabatan
kami setau saya dia rela melakukan apapun demi cita-citanya. Orang-orang kecil
dia korbankan. Kesalahan sedikit yang dilakukan orang kecil pasti akan kena
makian kasarnya. Ada sesuatu yang tak beres, dia akan sibuk mengutukinya. Budaya
yang memang unik karena keribetannya akan jadi sumber kritik pedasnya. Nah,
orang ini benar-benar memalukan!!! Sungguh!!! Kadang saya yang jadi malu sama
orang lain punya teman yang begitu merugikan ini.
Ada lagi seorang ibu wanita
karier yang tidak bisa menerima kalau orang lain lebih sukses darinya. Iri hati
dan pada akhirnya menjelek-jelekkan orang yang dianggap rivalnya. Jadi teman si
wanita karier ini punya mobil baru dengan berbagai kemewahannya, dan yeah bisa
ditebak, si wanita karier mengungkit-ungkit mobil baru temannya dengan nada
sarkastis di setiap ada kesempatan.
Seorang anak muda yang baru saja
masuk bangku perkuliahaan tidak bisa kalau gadgetnya lebih jelek dari milik
temannya, ya minimal sama lahh. Herannya, kalau ada temannya yang beberapa
tingkat keburukan gadgetnya jauh di bawahnya, anak muda tadi akan mengenyek
habis-habisan.
Dan percaya atau tidak, itu semua
benar-benar ada, saya kenal pelakunya!!!! “Tolong ditangkap saja, pak polisii”
Untuk kali ini saya tidak bisa
menganalisis bagaimana bisa orang-orang di atas begitu terobsesi akan sesuatu. Obsesi
yang kalau diolah dengan baik akan jadi hal positiv malah jadi merugikan orang
lain.
| Ada teman yang punya mobil antik?? Saya tak iri, saya hanya mau numpang berfoto. Jangan tanya siapa laki-laki yang ada di foto, saya tak kenal. |
Nah sekarang saya mau bersombong sedikit akan sikap saya yang tak memiliki obsesi negativ. Begitni ya saya kok justru akan mengucap syukur kalau orang lain lebih
berhasil, saya senang adik saya bisa dapat beasiswa meskipun saya tidak pernah.
Dan saya sungguh benar-benar senang, bukan yang malah menjelek-jelekkan. Saya senang
teman saya sudah menikah dan memiliki bayi yang luar biasa lucu ditambah rumah
dan mobil miliknya pribadi, saya pun iri, tapi saya tak mau bercapek-capek mencari
celah untuk menjelek-jelekkan mereka. Saya cukup tau kemampuan saya dan sayapun tak mau berlebihan #merendah.
Kasihan sekali orang-orang yang
terlalu terobsesi akan milik orang lain. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar
perasaan tak puas. Dan pasti rasanya lelah sekali menuruti nafsunya pada dunia. Kurang bersyukur,
itu saja intinya.
Selasa, 25 September 2012
Panggilan Sayang
Hasil dari online pagi-pagi...
Saya nggak habis pikir sama
teenagers sekarang, masih pacaran kok panggilan kesayangannya sudah “mama-papa”,
ada juga yang saling memanggil “ummi-abi” , mau yang lebih lucu?? Sepasang ex-murid
saya saling memanggil “ayah-bunbun” # tepok jidat. Pelakunya adalah ABG labil
baru lulus kemarin sore. Saya sebagai orang didikan jaman maen kelereng masih
hits tentu saja heran.
“Eh mawar sama bagus (nama
samaran) sudah menikah kah??” Tanya saya lugu. Mereka hanya cengengesan. Helloo
guys, kami yang sudah mature begini saja masih saling memanggil “sayang,
honey, beib, cinta” kok kalian yang baru lahir kemarin sore sudah manggil dengan
panggilan berat begitu. Kayak lu tau urusan rumah tangge ajjjeeehhh.
Tapi tak apa, itu hak
masing-masing. Sejujurnya saya menikmati juga keanehan mereka. Saya baru akan menyindir mereka kalau perut saya sudah kejang-kejang mau muntah menertawakan update status mereka,
atau kalau mereka sudah mulai saling memanggil “aki-nini” . LOL
Jadi pertanyaannya sekarang adalah: mengapa
teenagers memanggil dengan panggilan seberat itu, dan mengapa kami yang sudah
mature masih memanggil dengan panggilan yang lebih masuk akal??
![]() |
| Ini contoh panggilan sayang yang jauuuuuuuuuuhh dari romantis :p |
Kalau untuk kami yang mature sih sudah
jelas, we do not have a baby yet, jadi wajar kalau kami masih seperti orang
pacaran. Saya pasti akan melotot kalau tiba-tiba pasangan saya memanggil dengan
panggilan ‘bunbun’, plus bonus tamparan kalau panggilan itu dilakukan di
kampus!! Lagipula menurut saya panggilan ‘sayang’ dan sejenisnya lebih dimaklumi
secara internasional (you know that I mean ha!), mesra dan kelihatan lebih
muda, fresh, abg, unyu-unyu. Nah kok ini yang teenager malah pakai yang old
school.
Apapun itu,
Panggilan sayang adalah bentuk ekspresi
sepasang kekasih, bisa juga antar teman (saya memanggil seorang sahabat saya
dengan panggilan ‘nok’) yang menyatakan kedekatan mereka secara personal. Tentu
saja panggilan sayang ini sesuai kesepakatan bersama, dan tidak ada batasan
dalam pemakaian kata dalam panggilan sayang, selagi itu tidak bersifat
mengejek.
Ada yang lucu, teman saya ada
yang diam-diam waktu pacaran saling memanggil mama-papa, saya baca smsnya
(maaf)!! Dan apa yang terjadi ketika mereka sudah menikah?? Tentu saja kembali
ke habitat mereka, panggilannya berubah jadi ibu-bapak.
Saya belajar satu hal, bahwa
panggilan sayang pada pasangan bisa berubah setelah mereka menikah. Inilah bentuk keheranan saya akan perkembangan dunia perpacaranan.
Ngomong-ngomong, saya masih mencari dimana letak keromantisan panggilan "mama-papa, ummi-abi, ayah-bunda" yang dilakukan oleh para ABG labil.
Sabtu, 15 September 2012
Bibit dan Jathilan
Salam!!!
Lagi heboh nih masalah Bibit Waluyo, seorang gubernur yang berpidato bahwa kesenian Jathilan adalah kesenian terjelek di dunia.
Begini ya, mari kita tanggapi dengan positif pernyataan pedas bibit waluyo tentang Jathilan (Kuda Lumping/ Jaranan). Saya termasuk pengamat Jathilan walau lingkupnya baru di kabupaten Sleman dan kebetulan tugas penelitian akhir saya mengangkat masalah Jathilan ini.
Pernyataan saya sama seperti yang lain, tidak pantas seorang pemimpin bereaksi sangat negatif tentang kesenian daerah yang dipimpinnya. Saya khawatir, kalau Jathilan ini diklaim milik negara tetangga, Bibit sebagai pribadi juga tidak begitu peduli.
Tapi baiklah, mari kita bedah pelan-pelan. Kesenian Jathilan adalah kesenian rakyat yang memang kurang anggun dibanding dengan kesenian kraton yang lemah gemulai.
Dalam tarian terdiri dari empat babak. Satu babak sendiri ada dua macam sesi, sesi menari dalam keadaan sadar dan sesi trance/kesurupan. Sesi kesurupan inilah yang menurut saya luar biasa menarik. Aksi yang di luar kontrol diri, makan beling, menari-nari tak beraturan, bagaimana pawang menabur kembang lalu menyadarkan para anak buahnya adalah sesuatu yang membuat kita ikut berdebar. Apaplagi kalau di tengah-tengah acara ada penonton yang ikut kesurupan, hawanya makin mistis.
Sesi yang pertama inilah yang mungkin kurang asik, sesi ketika para anggota jathilan (tidak termasuk pawang) menari-nari dalam keadaan sadar sesuai dengan latihan mereka. Maaf, tarian yang sama dalam waktu yang sangat lama itu membosankan. Bagi yang tau makna dari tarian yang mereka tarikan pun tetap membosankan, ditambah dengan ekspresi para penari yang adem-adem saja. Coba ekspresi mereka dibikin lebih seram, atau sambil senyum, jangan anteng aja. Ekspresinya manaaaaaaaaa!!!!
Mungkin ini pula yang membuat Bibit bosan, karena sepertinya Bibit tidak melihat sesi trance nya. Sayang sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)

