Sabtu, 06 Agustus 2011

Teman Baik dan Realita




Aku benar-benar percaya sama tori relativitas, bahwa semua yang ada di dunia ini hukumnya adalah relatif. Contoh nih ya, Aku bilang Mr. Headstone paling cakep sedunia, tapi buat beberapa orang wajahnya membuat semua orang mau muntah biasa saja.

Dan aku rasa itu termasuk waktu, ya..waktu juga relatif!! Ini buktinya: saat sedang puasa begini menunggu Maghrib minta ampun lamanya, dan menunggu lebaran rasanya seabad. Nah giliran urusan kuliah tau-tau kok sudah harus bayar SPP lagi, seminar juga belum!!!
Semoga ini terakhir kalinya aku bayar SPP. Semoga semester depan aku sudah wisuda. Sudah dapat gelar Master of Arts. 

Baru Kemarin rasanya kami saling berkenalan. Anak-anak Madrasah yang gagap dunia luar, ndeso minta ampun, katrok setengah mampus. Tau-tau sekarang...Lihat saja: 

Satu Dosen
Satu PNS
Satu wirausaha
Satu kindergarten teacher 
dan
Satu yang masih terus sekolah, (ya anda benar... It's me!!!)
Melarikan diri dari kewajiban bekerja dengan terus bersekolah
Wish me Luck


Waktu memang masuk hukum Relativitas. Dan semoga waktu bisa lebih membuatku bijak.

Sabtu, 30 Juli 2011

Sadness


Ya Tuhan...
Saat berjuta janji tak ditepati
Saat kata maaf menjadi rutinitas basi
Saat kejujuran tak dianggap penting
Saat kesetiaan hanya bualan
Saat kepercayaan bersaing dengan kebohongan

Sudah cukup, berhenti saja
Aku m.e.n.y.e.r.a.h....












Selasa, 26 Juli 2011

Private Beach

Alhamdulillah


Sebelum tiba saatnya memenjarakan nafsu liarku datangnya bulan Ramadlan yang suci, aku memutuskan untuk bersenang-senang di Pantai. Mencuri-curi waktu untuk menghabiskan uang orang tua liburan. Lokasinya di sepanjang Pantai di Gunung Kidul, Jogja. Gunung Kidul ini terkenal dengan pantainya yang luar biasa. Pasir putih, lokasi yang bersih, sea food yang benar-benar fresh, karang yang eksotik, dan tentu saja bisa bermain air sepuasnya. Tips untuk yang mau ke pantai ini, datanglah di hari kerja, maka pantai akan jadi milikmu sepenuhnya. Sepi, tak ada orang (tapi please jangan nekat untuk membuka bajumu). Rasanya seperti Paris Hilton yang punya private beach..

Sialnya, aku lupa nama pantainya. Pokoknya diawali huruf  "ng".  

Kalau air laut sedang surut, landak seperti ini banyak sekali kelihatan di sela-sela karang.

what did I said!! It's privat beach!! Hanya ada supir dan penumpangnya model dan fotografer. Jangan berpikiran macam-macam

kakap putih, tongkol, cumi, tropical fruits, la dulce vita!!!

Makanannya benar-benar enak. Yang aku rekomendasikan adalah sup ikan kakap putih!! Oemji, heaven!!! Setengah kilo ikan kakap putih dibagi dua masakan, sup dan bakar. Semuanya enak. Mau tau harga? Semua ini habis Rp. 95 rebong. Buat kantong mahasiswa sepertiku mahal cyyynn, walau sebanding banget sama rasanya!!

Dan akhirnya, menanti maghrib di Bukit Bintang. Dinamain bukit bintang karena dari ketinggian entah berapa kilometer dari permukaan air laut, kita bisa lihat pemandangan jogja. Cuman liat sinar lampunya aja sih. Mirip bintang? Pikirkan sendiri

Jogja malam hari diliat dari atas.



Total biaya perjalanan: 200 reboong!!! *Menangis tersedu, memandangi dompet, mengelus dada, menenangkan diri sambil terus menggumam "tapi kan asiiiikkkkk, puas mandi, puas makan" *

Rabu, 20 Juli 2011

Antropolog?? Think Again!!!

Bismillah 

Kesan Pertama
Aku gagal di hari pertamaku menjadi observer. Itu sudah pasti. Seharusnya tak ada wawancara mendalam dalam kunjungan awal. Pekenalan sekedarnya saja cukup.  Yang kulakukan malah ngobrol panjang sekali dengan para anggota Kelompok Kesenian Pring Gading, mengobrol dengan ke ketua kelompoknya, ya para penarinya, termasuk para pawangnya (padahal aku sama sekali belum pernah melihat mereka pentas). Sayangnya, wawancara saja tak cukup untuk membuat tesis setebal bantal. “Pekerjaan utama antropolog adalah pengamatan langsung, Partisipasi observasi!!!” Begitu yang selalu diulang-ulang oleh dosen Pengantar Penelitian Lapangan-ku. Wawancara seharusnya dijadikan data tambahan. Bukan apa-apa, masalahnya anggota kelompok kesenian Pring Gading ini sangat asik diajak mengobrol. Dan aku tak berdaya disuguhi jajanan khas kampung yang enak sekali!!!
Kegagalan kedua adalah, oh Tuhan ini benar-benar fatal. Kedatanganku sangat mencolok perhatian para penonton ketika kolompok kesenian ini sedang pentas. Antropolog yang baik tak akan menunjukkan siapa dirinya, datang dengan sangat halus tanpa membuat gejolak di masyarakat itu sendiri. Mencolok dalam artian, perhatikan ini: well, I love fashion dan ternyata ini adalah kesalahan besar. Dengan rok panjang trendy, kaus dan cardigan, shawl (jilbab panjang) yang kukreasikan sedemikian rupa, dan sebagai pelengkap kefatalan karierku aku menggunakan high heel setinggi LIMA sentimeter (dan saat itu tanah sedang becek-beceknya habis hujan). Tadinya aku merasa outfitku ini sederhana saja, tapi ternyata aku malah jadi perhatian ditempat pementasan. Menyaingi para pementas sendiri. Aku benar-benar merasa salah kostum kali ini. Bodoh sekali. Sebaiknya mungkin ada mata kuliah khusus yang membahas outfit peneliti amatiran, akan sangat membantu.
Kegagalan ketiga ini adalah benar-benar di luar kehendakku. Aku datang baik-baik sebagai mahasiswa yang kurang ilmu, posisiku adalah bodoh dan tak tau apa-apa. Tapi sambutan masyarakat seperti menyambut tamu dari Departemen Kebudayaan atau malah dari Discovery Channel. Benar sekali, ketua kelompok mengadakan penyambutan khusus untukku dengan mengundang anggota yang lainnya plus ketua RT, ketua RW, bendahara kampung, seksi dokumentasi, tentu saja dengan ceramah panjang lebar dan resmi (dan lagi-lagi ada snack yang lumayan enak pula). Ayolah, aku bukan siapa-siapa, cuma mahasiswa yang belum lulus-lulus. Sungguh tak enak hati. Aku cuma cengar-cengir saja saat itu. Dilematis.
Hanya satu kalimat yang menyantol dikepalaku dan selalu kuulang-ulang dengan perasaan bersalah: maafkan mahasiswamu ini prof. Hardi. Ilmu yang proesor berikan tentang kode etik observer tak benar2 kujalankan dengan baik dan gagal total. Semoga tak dilanjutkan dengan kegagalan-kegagalan lainnya. amin.
Terlepas dari semua masalah yang kualami, kenyataan bahwa kedatanganku disambut dengan sangat baik merupakan pertanda bahwa tesisku akan segera slesai. Asiiiiikkkkk. Bersikap ramah terhadap mahasiswi nggak jelas sepertiku adalah salah satu cara mereka nguri-uri kabudayan

Minggu, 17 Juli 2011

Ya Tuhan... Putuskan semua urat narsis dalam diriku ini.

Camera digital hamba sudah jadul, minta ganti DSLR ya Tuhan, give me!!
dan Terutama, hamba sudah putus hubungan dengan si fotografer abal-abal itu

Sedih sekali.
Semoga hamba bisa segera insaf dari kegilaan berfoto.
Amin..