Jumat, 17 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan 2012

Merdeka 2012....



Bahkan Google-pun ikut merayakan :)

Bagaimana kalian merayakan kemerdekaan kali ini? Kalau saya biasanya  mengikuti upacara di sekolah, tapi berhubung hari ini sudah libur sekolah, maka saya di rumah saja. Memasak untuk Hari Raya dua hari lagi.

Indonesia sudah 67 tahun. FYI, Indonesia adalah negara ASEAN yang merdeka pertama kali. Beberapa negara merdeka karena 'diberi' oleh negara yang menjajah, tapi Indonesia merebut kemerdekaannya sendiri. Bukankah itu suatu yang hebat. 

Ada yang bilang Indonesia belum siap merdeka, tata negara belum kokoh, dan berbagai macam alasan lainnya. Menurut saya, untuk merdeka tidak butuh persiapan sama sekali. Apalagi posisi Indonesia adalah merebut kemerdekaan, karena negara yang menjajah (Jepang) pun sudah kalah oleh sekutu. Kalau merdeka harus rempong pakai persiapan menata pemerintahan dulu atau menunggu jadi negara kaya dulu, saya yakin kalau Indonesia belum tentu sudah merdeka saat ini.

Jadi, Apakah kalian sudah merasa merdeka?? 

Kamis, 21 Juni 2012

"Sesuatu" untuk Nur


Bismillah

Beberapa waktu yang lalu saya satu travel dengan seorang cewek berumur sekitar 14 tahun. Putus sekolah. Pembantu Rumah Tangga. Kami sama-sama terjebak macet berjam-jam di daerah puncak. Seperti biasa, saya mendakadak menjadi seorang yang crewetnya minta ampun. Ingin tau kehidupannya. Dan setelah saya tau, saya sebagai seorang yang hidup di lingkungan –mampu- menyimpulkan bahwa kehidupan gadis ini sungguh mengenaskan.



Nur. Seorang gadis di bawah umur yang putus sekolah, harus bekerja karena adiknya ada 4 orang, orang-tuanya jadi pembantu juga, terjebak di Jakarta dengan begitu ketatnya persaingan kerja. Terjebak pada kondisi kemiskinan struktural yang mengakar pada keluarganya.

Saya mendadak menjadi Kak Seto dan Tung Dasem Waringin dalam waktu bersamaan. Mendengarkan dengan sabar ceritanya, memberikan motivasi, sampai memberi tips agar dia mendapatkan pacar yang baik. Saya juga memberinya iming-iming bahwa belajar di kampus itu sangat menyenangkan. Ini, mungkin bisa jadi pukulan berat buatnya, tapi sebisa mungkin saya memakai bahasa segaul dan seumur dan setingkat dengannya agar saya tak terlalu sombong.



Tapi rasanya semua saran saya mentok pada satu kata –ekonomi-.

Putar otak dan tak mau mengasihani nasibnya tanpa melakukan sesuatu. Berniat menolongnya dengan motivasi ala Mario Teguh, meskipun menurut adik saya, hidup itu tak semudah kata Mario Teguh.

Jadi kira-kira beginilah yang saya katakan pada Nur,

“Nur, Kamu memang sekarang putus sekolah. Tapi ada caranya supaya kamu tetap belajar dan bisa jadi pinter. SATU, kamu harus suka dan rajin membaca. Ada koran majikan, ada apapun di depan matamu, bacalah!! Mungkin kamu sekarang tidak paham sama yang kamu baca, tapi paksalah untuk tetap membaca. Nanti kamu akan paham dan menemukan sendiri maksudnya. Kamu mau kuliah setinggi apa dan sejauh mana, modal utamanya harus rajin baca buku. Ada koran bekas bungkus tempe, tulisan nggak jelas di belakang obat nyamuk, buku setebal bantal punya majikanmu, bacalah. Pokoknya baca nur!!! Baca, pelajari, dan kemudian pahami. Kan kamu tau sendiri, ayat pertama al-Qur’an adalah.... (bla bla bla) #sok religius.



“Terus setelah belajar baca, belajarlah menulis. Kamu tulis buku harian, terus nanti lama-lama kamu tulis ulang apa yang kamu baca menurut pemahamanmu. Jangan lupa kalau ada bacaan yang kamu suka, pelajari cara penulisannya. Tulislah menurut pendapatmu sendiri. Sesukamu.

“Kalau kamu sudah semuanya, Kamu banyak dapat pengetahuan dari bacaan yang kamu baca, lalu kamu belajar bicara, ngomong yang tegas, lugas, percaya diri, anggun, berkelas, berisi. Nah ini agak susah Nur, Karena ini dipelajari di perguruan tinggi. Tapi nggak papa, kamu bisa belajar lewat kaca di kamarmu. Bicara yang tidak menyakiti, bicara yang santun, kemukakan keinginanmu dan pengetahuanmu dengan bijak. Jangan berbohong ketika kamu bicara, apa adanya saja. Yang ini agak susah ya Nur, tapi kalau kamu menguasai semua hal tiga di atas. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Keberuntungan, kesempatan, biaya, akan lebih mudah kalau kamu sudah bisa mengkombinasikan tiga hal tadi. “

Mau Jadi guru Besar?? Mimpi saja, kalau kau tak mau rajin membaca


Si Nur wajahnya lebih sumringah, saya ke-GR-an mengira dia termotivasi. Tapi bener lho, itu solusi dadakan saja saat itu. Dalam hati saya membatin, saya sekolah tinggi, percuma kalau saya tidak bisa merubah pandangan Nur tentang kehidupan. Saya bukan generasi cuek!!
Sementara itu, lelaki disebalah saya membisiki “Kalau semua pembantu kamu ceramahi begitu, terus jadi pinter, nanti tidak ada lagi yang mau jadi pembantu yang dibayar murah.” Sayangnya, lelaki berpikiran klise itu adalah suami saya. Oooohh




Ini jawaban saya “Saya mengajari mereka bukan untuk jadi pembelot yang kasar. Tapi agar mereka jadi seorang yang bisa dihargai sesuai kemampuan mereka. Kalaupun mereka tetap jadi pembantu, maka mereka adalah pembantu yang dibayar dengan profesionalitas kerjanya, bukan dibayar kerena kasihan.”

Semangat!!!!!! untuk semua orang yang merasa tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan setingkat profesor

Jumat, 18 Mei 2012

Happiness

Bismillah...


"Are You Happy?" Saya ditanya seorang sahabat dekat.

Saya tau, maksudnya adalah, 'apakah saya bahagia setelah menikah'. Jadi saya berpikir lama. Bahagia yang seperti apa? Apa ukuran bahagia sebenarnya.

Uang? Jadi kalau sudah bisa bermewah-mewahan itu dinamakan bahagia? mau belanja apapun bisa, kapanpun bisa, tak ada istilah tanggal tua dan tanggal muda. Kedengarannya memang sangat menyenangkan. Satu-satunya obat stres paling mujarobah adalah membelanjakan uang. Saya juga mau seperti itu. Tapi saya sejuta persen mempercayai ini 'money can't buy us happiness'. Percayalah, saya pernah merasakannya. Jadi uang bukanlah ukuran kebahagiaan setidaknya menurut saya.

Tanpa masalah?? Oh yeah, ini benar-benar impian saya. Tapi jelas tak mungkin kan, uantuk apa kau hidup kalau bukan untuk menyelesaikan PR yang diberikan Tuhan, inilah caranya kita naik pangkat di hadapan Tuhan. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah. Jadi saya berpikir ukuran bahagia bukanlah hidup tanpa masalah. 

Kemudian saya dengan sok memasamkan muka, menjawab pertanyaan teman saya tadi.
" Belum. Saya belum bahagia"

Karena bahagia menurut saya adalah bisa berbagi. Selalu memberi. Membantu. Ketika saya sudah bermanfaat untuk orang lain. Ketika saya bisa menyumbangkan apa yang saya miliki untuk kepentingan individu maupun kelompok. Ketika saya melihat orang tersenyum (atau menangis) dan dengan bangga mengatakan 'trimakasih banyak' atas hasil kerja saya. Ketika pemikiran saya bisa menginspirasi orang. Saya akan pastikan kalau saya bahagia pada saat itu. 


Dan saya sekarang dalam proses menuju kebahagiaan saya. 

Senin, 14 Mei 2012

HBT me......

Alhamdulillah..

Saya Ulang Tahun, Jangan tanya yang keberapa, karena saya adalah pengikut pepatah ini "Jangan Tanyakan Umur pada Wanita, dan Jangan Tanyakan Besar Gaji pada Laki-laki"

Seiring dengan bertambahnya usia ditambah tingkat kematangan dalam berpikir saya yang makin kacau dewasa, ternyata saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa ulang tahun itu tidak begitu penting dan malah sangat memalukan. 

Memalukan? Iya benar, Karena saya sudah mulai putus asa, berharap ada yang mau memberi saya tunjangan pendidikan gratis sampai tingkat profesor kelak plus biaya hidup berfoya-foya #matre. Btw, inilah daftar teratas dari wish list saya. Daftar lainnya yang masih sama tak kesampaian, saya ingin jalan-jalan menyusuri sisa-sisa peradaban Islam di dunia. Ya ampun, memalukan sekali, Dunia pula!!! 

Mungkin tidak saya menang lotre lalu membeli rumah ini?? TIDAK!!!
Well yeah, itulah harapan. Mimpi. Seharusnya bisa terwujud kalau kita mau berjuang dengan sangat keras. Make a Wish saya tahun ini , saya harus menyelesaikan program master saya, dan saya harus punya pemasukan  finansial sendiri yang bisa membuat saya tiap bulan pergi berlibur di seluruh pantai di Indonesia!!!!! Sebenarnya ini bukan make a wish tahun ini saja, beberapa tahun ke belakang sepertinya saya juga menginginkan ini. 

Btw, Terimakasih yang sudah mendoakan saya, terutama teman-teman di facebook. Saya yakin 100% doa lewat facebook juga diijabahi oleh Tuhan. Bukankan Tuhan sangat pemurah. 

Masih Pengantin Baru


Bismillah...


Sudah tiga bulan lebih dua hari saya menjadi seorang istri. Apa kabar anyway? Tidak terlalu baik. Percayalah, untuk anak manja seperti saya, menikah bukan sesuatu yang mudah. Belajar dan terus belajar tentang bagaimana menjadi istri yang baik tanpa mengorbankan diri sendiri. Hei, mengorbankan diri sendiri? kedengarannya mengerikan sekali!!! 

Lebih pada masalah teknis saja sebenarnya, seperti saya yang tak pernah bisa bangun pagi sekarang jadi harus bangun pagi, saya yang tak pernah sudi disuruh-suruh sekarang harus menjadi separo pembantu lebih giat lagi.

Tapi Alhamdulillah, semua harus disyukuri. Bahwa saya sudah menikah, itu adalah hal yang luar biasa untuk saya yang tadinya tak percaya dengan lembaga pernikahan. 








Selasa, 20 Desember 2011

Membeli Seserahan

Salam

Sekedar berbagai kalau ada yang mau membeli seserahan. Seserahan adalah barang-barang yang diberikan  pihak suami kepada calon istrinya. Biasanya diserahkan pada waktu lamaran atau bisa juga pada waktu akad nikah. Filosofi seserahan adalah, bahwa nantinya setelah menikah si suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya. Oleh karena itu isi seserahan bisa bermacam-macam, mulai dari beras hingga dalaman baju! Seserahan adalah simbol dari sebuah pertanggung jawaban suami terhadap istri yang diformalkan  dalam sebuah prosesi adat yang super njlimet.

Apa saja isi seserahan? Silahkan cek wedding blog lain, aku hanya memberi tips internal.

Biasanya pembelian seserahan dilakukan oleh ibu atau pihak keluarga laki-laki, tapi sekarang ini pihak perempuan yang memilih sendiri seserahannya. Dipilih sendiri, dibayari calon suami, dipakai sendiri. Asik sekali!!!! tapi tunggu dulu, tidak seasik itu kawan, percayalah, aku mengalaminya!!! Setiap belanja selalu diakhiri acara sensitif dan lain-lain.

"Bantu hamba memilih seserahan ya Tuhan".
Doa seperti ini memalukan, tapi memang diperlukan
Jadi, aku memberi tips, seperti kataku tadi, tips internal agar kalian tidak kaget.
  1. Putari seluruh mall, pasar, dan toko. Bandingkan harga,pilih yang terbaik.
  2. Jangan membeli barang yang sedang In Style. Fashion cepat sekali berubah, honey. Bulan ini aku beli baju model animal print, tapi saat seserahan harus diserahkan, animal print sudah digantikan kain tie dye ala-ala Dian Pelangi gitu. Jadi, belilah sesuatu yang lebih clasic, abadi. Bisa dipakai di musim apapun. 
  3. Peralatan mandi juga termasuk seserahan. Tapi tolong jangan beli sabun untuk kulit gatelan yang beraroma menyengat, meskipun setiap hari kalian pakai itu. Karena peralatan mandi juga ikut dihias, tamu-tamu akan membatin kalau tubuh calon pengantin penuh dengan panu kadas kurap. Sekali ini saja, belilah yang pantas untuk dipajang. Aku rekomendasikan produk The Body Shop. Prestis kawan! #promosi
  4. Kalian dari kalangan akademisi? Dari pada membawa kambing untuk dijadikan seserahan, lobi calon suami untuk mengganti seekor kambing dengan MC.BOOK.
  5. Membeli Baju tidur yang transparan dan super mini, perhatikan bentuk tubuh kalian. Jangan sampai calon suami jadi pingsan di malam pertama, melihat perpaduan tidak masuk akal badan dengan bulu-bulu seksi+baju tidur motif leopard. Nanti dia berpikir jangan-jangan sudah salah menikahi seekor singa dari kebun binatang. Atau malah kesenengan karena istrinya mendadak menjadi personel Trio Macan.
  6. "Pilih sesuai fungsinya,
    Tuan Putri, jangan yang mahal"
  7. Ini yang sering jadi pertengkaran: perempuan suka barang mahal VS laki-laki yang mengedapankan prinsip ekonomi praktis alias pengiritan. Biacarakan ini baik-baik.
Misal:
Tuan Putri: Kain rayon sutra tadi bagus ya mas (kain rayon sutra seharga lima ratus ribu/ dua meter)
Mr. MM: It’s five hundred thousands rupias, honey. Beli kain katun seperti ini bisa dapat banyak dan lebih enak dipakai (sambil memegang kain katun jepang dengan motif seperti seprai)
Tuan Putri: kalau gitu mari cari ditempat lain. Siapa tau ada yang yang lebih murah dengan bentuk yang sama
Mr. MM: &^&^%&^%$%$##$@

  1. Sebisa mungkin jangan belanja sama calon suami. Laki-laki suka berpikir praktis, mereka pikir dengan datang cukup sekali ke satu mall bisa mendapatkan seluruh isi seserahan dengan harga miring. Tidak seperti itu laki-laki, kami harus benar-benar memastikan barang yang kami beli ‘sempurna’ secara keseluruhan. Membawa laki-laki belanja akan membuat kesetresan calon pengantin perempuan semakin meningkat.
  2. Kalau terpaksa harus belanja sama calon suami, sebaiknya kalian sudah siap memilih barang-barang sebelumnya. Begini misalnya, sehari sebelumnya putari dulu seluruh mall, besoknya ajak calon suami membayar apa yang jadi incaranmu.
  3. Masih terpaksa jalan sama calon suami juga? Kemana teman-teman perempuan kalian? Ok ok, just kidding. Alokasikan waktu dengan baik, misalnya: belanja-makan-belanja-nonton. Harus diakhiri dengan sesuatu yang asik. Paham kan?
You wanna this??
Baiklah dear, itu saja yang bisa aku bagi. Semoga bermanfaat. 

Sabtu, 10 Desember 2011

Penyakit "Lupa Berat" (tapi masih ingat orang ngutang)

Alhamdulillah

Good news!! Nunun Nurbaeti Darojatun akhirnya ditangkap setelah buron entah berapa lama. Suaminya, Darojatun adalah mantang waka polri, pernah mencalonkan diri jadi calon gubernur DKI Jakarta. Nunun sendiri  adalah sosialita yang namanya sering disebut-sebut oleh para tersangka kasus BLBI. Tapi sekalipun Nunun ini tak pernah hadir dalam persidangan, alasannya? Menderita ‘penyakit lupa berat’. Ahay!! Alasan yang sangat “masuk akal”, nyonya. Sayangnya penyakit seperti itu tidak pernah ada, beberapa dokter memastikan dengan mempertaruhkan kariernya sebagai dokter. Penderita amnesia tidak bisa jalan-jalan sendiri ke Bangkok.

Masalahnya adalah, aku ingin sekali terkena penyakit lupa berat. Lupa berat akan semua tugas yang harus ku selesaikan, lupa berat akan kuliahku, lupa berat kalau aku sudah hampir menjadi a bride to be dan masih berumur 17 tahun.

Ini sama dengan lari dari masalah

Tapi, sepintar-pintarnya orang berlari dari masalahnya atau mengabaikan kewajibannya, pasti dia akan kembali dengan kondisi jiwa yang mungkin lebih siap tapi bisa juga lebih parah. Untuk seumuranku, masalah bukan lagi menjadi hal seru-seruan seperti waktu SMA, menangis lalu beres. Masalah harus dihadapi, seberapa beratnya masalah itu.

Begitu masalah selesai, plong, 
Congratulation, karena akhirnya kita bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik. 

mana bisa kena penyakit "Lupa Berat" kalau tumpukan ini masih ada di meja

Insyallah...

Ngomong-ngomong, Selamat untuk KPK. Semoga penangkapan Nunun ini tidak 'diatur dari sononya' demi kepentingan pihak-pihak tertentu.